Cari Blog Ini

Mengapa Ide-99


Ide? Ya…ide. Di kepala kita penuh berbagai ide. Ide muncul di mana saja. Saat kita bangun tidur, saat kita bekerja atau bahkan saat kita terdesak. Ide seperti sebuah “wahyu”. Jika kita tidak menuliskan ide tersebut, ia hanya terpendam dalam alam bawah sadar, bahkan menguap entah ke mana? Karena itu, ide perlu ditulis, agar ide menjadi produktif, ide menjadi cahaya bagi kebodohan. Ide menjadi penerang di tengah peradaban. Karena itu, mengapa penulis memberi nama blog ini menjadi ide. Sebab melalui lembaran internet inilah, penulis akan mengukir berbagai ide yang muncul dari pikiran penulis, dari sari pikiran orang lain. Mengapa 99, sebab 99 itu adalah jumlah asmaul husna. Tentu ada rahasia dari angka itu. Ada daya magnet. Setidaknya di memori orang, angka itu, bukan sesuatu yang baru.

Di lembaran dunia maya ini, penulis akan meluangkan waktu untuk menulis ide-ide bagi kehidupan. Penulis akan menularkan ide-ide pencerahan, sebab sebuah perubahan besar berasal dari ide. Penulis juga akan mengulas kembali ide-ide cemerlang yang muncul dari orang lain. Penulis akan menampung di dalam blog ide-99 ini. Karena penulis sadar, bahwa ide-ide dan karya besar tidak harus lahir dari orang-orang besar. Ide boleh berasal dari sudut lorong, dari orang-orang biasa yang memungut berbagai hikmah kehidupan. Karana itu, ingatlah ide-99 dan selalulah bertamu. Mungkin ada solusi terhadap masalah Anda, di mana Anda bisa menemukan solusi atas masalah itu. Atau mungkin juga Anda memiliki ide untuk pencerahan kehidupan dan kemanusiaan ini. Atau mungkin Anda memiliki pertanyaan. Maka bertanyalah, karena setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban. Kontak email smart2ide@gmail.com

Kamis, 30 Juli 2009

Tujuanmu Ke Mana?

Setiap saat kita mendengar pertanyaan ini : akan ke mana engkau? Tentu kita akan menjawab ke suatu tempat sesuai tujuan kita. Tempat yang dicita-citakan sudah tergambar di pikiran.

Kita mengambil contoh menjawab pertanyaan mendasar itu. “Saya akan tour ke South Sulawesi, Indonesia. Sekali dalam perjalanan saya akan menikmati berbagai pemandangan alam. Saya akan menyusun jadwal perjalanan menuju tujuan wisata saya.

Dari negeri saya, setelah tiba di Jakarta, Indonesia, saya menuju Makassar sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Di Makassar saya menginap satu malam di hotel, selanjutnya menuju ke Kabupaten Selayar, tempat tujuan wisata utama saya. Di sana saya juga akan menikmati keindahan pemandangan biota laut.

Setelah menikmati wisata saya di pulau kabupaten Selayar, saya singgah dan menyewa penginapan di sekitar pantai pasir putih Bira, Kabupaten Bulukumba. Setelah dari Bira menikmati keindahan pantainya, saya akan singgah di perkampungan pembuatan perahu phinisi. Saya ingin melihat langsung bagaimana warga di Tana Beru membuat perahu phinisi secara tradisional. Karena berdasarkan informasi, warga perkampungan ini memang dikenal sebagai pelaut ulung. Selanjutnya saya menuju Makassar dan kembali ke negeri saya. Nah, untuk memudahkan menempuh tujuan saya akan membeli peta South Sulawesi, yang dilengkapi nomor telepon dan tempat penginapan".

Demikianlah jawaban atas pertanyaan itu. Obyek dan tujuan seseorang tergambar jelas. Namun yang menjadi masalah ketika pertanyaan itu berubah : Kemana tujuan hidup Anda? Ini menjadi masalah karena sesuatu yang masih abstrak. Namun hal tersebut sebagai suatu yang kongkrit dengan melihat perjalanan hidup orang yang telah menjalani dan menikmati tujuan hidup mereka.

Memang, masih banyak orang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Mereka hidup tak jelas arah tujuan hidupnya. Bahkan ketika kita memberi pena dan kertas untuk menulis tujuan hidup, mereka berpikir lama. Mereka tak bisa menulis daftar dari tujuan hidupnya. Ini menunjukkan bahwa sebagian dari kita memang belum memiliki tujuan dalam hidup ini. Mereka menghabiskan waktu demi waktu dengan sia-sia tanpa tujuan hidup yang jelas. Padahal waktu itu sendiri adalah deretan langkah demi langkah menuju tujuan dalam hidup.

Pertanyaan ini sangat mendasar dan penting. Tapi kesadaran seperti ini umumnya muncul ketika rekan kita sudah meraih sukses secara bertahap, terencana dan tujuan yang pasti. Kita baru tersentak bahwa kita telah ketinggalan jauh dari mereka yang memiliki tujuan dan rencana hidup.

Kemana tujuan hidup Anda? Sudahkah Anda memiliki jawaban atas pertanyaan ini? Jika sudah, silahkan lanjutkan langkah Anda menuju tujuan hidup Anda. Jika belum, sisakan waktu untuk berpikir dan merenung kembali untuk menjawab pertanyaan itu. Jawaban itu sebagai keputusan arah perjalanan dan tujuan hidup Anda. Sukses untuk Anda (ishak_Zainal)

Read more...

Apa Katamu ?

Kata. Apa itu kata? Kata adalah kekuatan yang mengandung energi. Seseorang bisa melumpuhkan kekuatan orang lain hanya dengan kata. Seseorang bisa bangkit dari keterpurukan juga karena kekuatan kata.

Dari deretan huruf, kata tersusun menjadi kalimat. Sepatah kata pun mengandung energi. Dalam ajaran Islam, kata “Ah” terhadap ibu dilarang. Kata itu bisa menyakitkan hati orang tua.

Dalam dunia seni, kata juga mengandung keindahan yang bisa menentramkan hati. Dalam dunia mistik, kata-kata mengandung kekuatan energi alam. Dalam dunia internet, kata selalu menjadi bahan rebutan. Itulah yang biasa disebut keyword (kata kunci).

Buku berjudul : The Miracle of Water yang ditulis Masaru Emoto juga membuktikan adanya hubungan kata dengan air. Dalam buku the Secret juga ditekankan kekuatan kata sebagai sugesti. Dalam dunia motivasi, kata-kata sugesti selalu menjadi bahan penekanan. Dalam dunia periklanan, keahlian memilah dan memilih kata selalu menjadi focus untuk menarik perhatian konsumen. Semua itu karena mereka sadar langsung atau tidak langsung kekuatan misteri yang terkandung dalam kata.

Tapi di mana letak semua kekuatan itu? Air adalah benda netral. Ia bisa menjadi energi positif atau negatif itu karena dari kekuatan kata seseorang. Tanaman adalah benda netral. Bahkan manusia pun mungkin adalah benda netral. Ia bisa menjadi positif atau negatif karena sugesti kata atau ucapan dari dirinya sendiri atau dari orang lain.

Karena itu, dalam ajaran agama ditekankan, berkatalah yang baik atau diamlah. Sebab kata itu bisa menjadi energi negative atau positif bagi diri sendiri. Karena itu, apa katamu, itu bisa menjadi bumerang positif atau negatif bagi diri sendiri, orang lain bahkan alam sekalipun.

Read more...

Manfaatkan Keterampilan Menulis

Apakah Anda memiliki keterampilan menulis? Anda bisa memanfaatkan keterampilan Anda untuk menghasilkan uang. Caranya mudah. Silahkan buka http://www.buyblogreviews.com untuk mendaftar. Atau jika ingin bagian referral saya, klik tampilan gambar buyblogreviews di di sidebar blog ini. Itu berarti pendaftaran Anda melalui referensi saya.

Setelah terhubung buyblogreviews, pilih bloggers. Jadi bukan advertiser ya. Langkah selanjutnya, klik free sign up. Isilah data-data secara jujur dan benar sesuai daftar yang diminta. Setelah mengisi data, klik register. Tunggulah persetujuan dari tim buyblogreviews melalui email Anda.

Setelah terdaftar dan diterima, silahkan daftarkan blog Anda. Blog Anda akan dievaluasi. Karena di blog itulah, Anda akan menulis review yang Anda pilih dalam daftar tawaran review produk yang tercantum buyblogreview.

Jadi tidak perlu ragu bergabung di buyblogreviews. Blog saya yang masih baru sudah diterima. Istilah mereka telah approved. Tapi jika belum akan tertulis awaiting approved. Saat saya menulis tulisan ini, saya juga mendaftarkan blog saya http://kotak-wasiat.blogspot.com, masih menunggu persetujuan (awaiting approved). Jadi ada tiga blog yang saya daftarkan termasuk http://issa-italy.org

Mengapa saya berani mendaftarkan blog saya? Sebab, jika saya tidak berani hari ini, maka kapan memulai untuk mengetahui, memahami hingga bisa menghasilkan uang. Memang bagi blogger baru tidak mudah memahami cara mendapatkan penghasilan melalui internet,kecuali bermodal berani, nekat dan selalu belajar dengan cara mengumpulkan informasi. Maaf jika tidak melewati proses itu, Anda tidak akan pernah mengetahuinya apalagi jika sejak awal sudah penuh keragu-raguan. Karena itu sebaiknya mendaftar saja. Sebab secara langsung atau tidak langsung, Anda akan mengetahui dengan cara searching data di google mengumpulkan data-data tentang review.

Kiat Mereview buyblogreviews
Ok. Kita kembali ke pembahasan buyblogreviews. Seperti saya katakan sebelumnya, persyaratan di buyblogreview tidaklah seketat di review lainnya yang mensyaratkan blog harus PR tinggi. Blog saya kan baru, bahkan belum sebulan. Dalam isi tampilan buyblogreviews juga mudah dimengerti. Bahkan tersedia tawaran iklan yang tercantum dibeberapa iklan yang siap untuk kita order dan mereview produk iklan tersebut. Namun ingat saya meminta penawaran, jangan pernah lupa mencantumkan kode buyblogreviews seperti yang tercantum paling bawah postingan ini.

Saya ingin berbagi kiat, sebelum mengorder iklan, sebaiknya kita menganalisa daftar iklan tersebut, apakah kita sulit mendapatkan informasi atau tidak yang akan kita review. Kenapa perlu mengetahui produk iklan itu? Tujuannya untuk memudahkan kita menulis produk review. Jadi seblum kita mereview, kita sudah memiliki data tentang perusahaan atau produk itu. Atau cara lain agar mudah mereview, pertama lihat daftar review, buka blog atau produk yang akan diriview, setelah itu, buka google untuk mengumpulkan data yang berkaitan di perusahaan tersebut misalnya kelebihan produk dari mereka. Jika data sudah terkumpul, berarti data pendukung sudah siap. Kita tinggal mengolahnya dalam kalimat.

Nah, sebagai pemula di review, pilihlah tawaran produk yang pembayarannya rendah, misalnya penawaran atau offer $ 3. Setelah kita terlatih dan mahir mereview pada tingkat professional, kita pun mulai pasang harga. Ya… mendaftarlah, tidak ada salahnya mencoba. Lebih cepat lebih baik...he..he..he... memakai iconnya JK-Wiranto

Blog Advertising

Read more...

Rabu, 22 Juli 2009

Hanya Orang Biasa

WAHAI, baiknya kita memilih hidup sebagai orang biasa. Orang sederhana. Tak perlu mengetahui strategi politik kotor. Tak perlu merambisi meraih empuknya kedudukan.
Kita perlu menjadi orang biasa. Hidup dengan apa adanya. Berjalan tanpa embel-embel dengan berbagai apologi. Orang biasa hidup dengan cara dan pemikiran sederhana, hidup dengan apa adanya. Beda dengan politikus, hidup abnormal : Strategi politik adalah bagaimana menelikung sesama kita. Padahal orang biasa menganggapnya itu hanyalah kemunafikan.
Kita sebaiknya tetap menjadi orang biasa, menjadi orang sederhana, agar ketika kita terpental dalam pentas politik, kita tidak terlalu sakit. Dan ketika berada pada status sosial di atas dari sekeliling kita, tidak menjadi angkuh.
Biarkan hidup dengan kesederhanaan. Kesederhanaan toh tidak termakan zaman. Kesederhanaan juga tidak membuat orang miskin tersisih dari kita atau orang-orang atas menjadi dengki atas pilihan hidup kita.
Sekarang ini banyak orang meninggalkan jati dirinya, karena meninggalkan pandangan hidup orang biasa. Malah meninggalkan pandangan hidup orang desa yang begitu bernasehat secara sederhana : Nak, jangan bohong. Nak jangan sakiti sesamamu. Bantulah orang lain, jangan menipunya.
Nasihat mereka sederhana. Tak ada kebohongan-kebohongan. Sederhana ya sederhana. Terus-terang ya terus terang. Karena itu kita baiknya saja menjadi orang biasa saja, seperti prinsip hidup orang-orang desa yang masih bijak.
Tapi, sekali lagi, kebanyakan dari kita ini justru tergoda dan memuja kehidupan kaum elit bahkan ikut bermain-main dengannya. Mereka berteriak pengentasan kemiskinan di atas hotel-hotel mewah. Mereka berteriak lantang jangan korupsi di atas tumpukan deposito milyaran.
Kita ini malah lebih memilih bersenang-senang dengan mereka bahkan ikut bermain untuk menceburkan diri di dalamnya. Kita menjatuhkan martabat kesederhanaan yang dulunya melekat pada kehidupan sederhana kita. Kita ini lebih memilih menjadi elit politikus lihai yang tak jauh bedanya dari defenisi sederet pembohong dan bermulut besar.
Karena itu, untuk menjadi orang biasa, baiknya kita selalu memandang ke bawah lagi, memandang kehidupan orang-orang biasa yang hidup bersahaja. Di bawah sana terdapat kearifan-kearifan hidup. Di bagian sana berderet kebenaran karena kejujurannya. Kita tak perlu lagi selalu memandang orang atas kehidupan para elit kita. Memandang lalu meniru gaya hidupnya.
Di atas kehidupan sana bukan lagi kehidupan normal seperti kehidupan orang biasa. Di atas sana ada baiknya kita menahan diri untuk tidak menghargai khususnya para elit-elit pembohong besar, karena nilai kebenaran itu tak senilai dengan sosok para pembohong itu.
Kita harus berani memilih hidup menjadi orang biasa, bersikap seperti biasa. Tak ada kebohongan-kebohongan sikap. Tak ada pelacuran-pelacuran nurani.
Ya, seperti orang biasa, bila marah bukan menyodorkan senyum. Bila senyum, senyum dengan tulus ihlas. Tidak dibolak balik sesuai kehidupan para elit kita yang di atas sana. Senyumnya adalah senyum politik. (M. Ishak Zainal)


Read more...

KAPAN RAKYAT MENJADI IDOLA ?

KAPAN rakyat menjadi idola? Ia hanya menjadi idola di tengah semaraknya partai, disaat diadakan pemilihan, saat mereka dibutuhkan kerja bakti. Setelah tenaga mereka dimanfaatkan, kemudian dilupakan selanjutnya dicampakkan.

Di masa-masa itulah, namanya dipopulerkan. Di lapangan rerumputan, setiap kanpanye, rakyat berjubel berpeluh keringat di sengat teriknya matahari. Mereka dengan bangga nama rakyat diagung-agungkan. Mereka menyaksikan wajah-wajah calon mereka, berdiri di panggung, meskipun panggung itu hanya diisi tong-tong kosong yang nyaring bunyinya.

Hari ini, seperti biasa, rakyat dimobilisasi untuk mendengar janji-janji omong kosong para politikus. Esoknya, aspirasi mereka dicampakkan bahkan sengketa rakyat menjadi misteri penyelesaiannya.

Hari ini, calon mereka meneriakkan janji, esok lusa lidah wakil mereka menjadi kelu, tak mampu bicara, telinga mereka menjadi pekak. Dewan yang terhormat itu melupakan akar, bahwa mereka itu dari rakyat, lalu status sosialnya terangkat, karena dipilih juga oleh rakyat.

Para wakil rakyat yang dipilih lalu ingkar janji adalah mereka yang terpilih dengan cara serdadu-serdadu bayaran. Menyogok, mengancam bahkan memaksa pemilih lemah untuk memilih aliran politiknya. Mereka hanya sekedar mengejar target suara terbanyak, meraih posisi, lalu merasa bangga. Selanjutnya dengan leluasa proses penindasan secara diam-diam bahkan terang-terangan mereka lakukan. Sasaran utamanya adalah para pengusaha dan pejabat, namun ujung-ujungnya mengorbankan rakyat umum.

Cara-cara seperti ini seakan terbayang kembali. Seperti hari-hari belakangan ini, nama rakyat diagung-agungkan, namun juga tengah dihin hak-hak politiknya. Mereka yang menghina adalah mereka yang memanfaatkan usus menggeliat lantaran kelaparan. Memiskinkan rakyat lalu membeli hak rakyat dengan uang. Mereka menghina karena mensederajatkan hak-hak rakyat seperti barang loakan di pasar murah.

Bila ini terjadi, maka kesempatan untuk membangun kembali demokrasi bangsa hanya mimpi. Rakyat akan kembali mengalami masa-masa yang suram. Mereka justru dihianati oleh yang mereka beri mandat.

Mereka yang memiliki dana sebukit, harus paham, bahwa aspirasi rakyat tidak harus selalu diukur dengan uang. Bahwa dengan uang itu justru merusak moral dan mental rakyat. Bahwa dengan membangun moralitas politik yang tercela sama dengan membangun piramida kekuasan korup.

Sungguh, mereka yang membeli hak pemilih, esok lusa ketika telah berkuasa akan kehilangan tanggungjawab. Mereka beranggapan bahwa mereka telah membeli hak rakyat.

Sementara rakyat yang tergoda dengan mendukung dan menggadaikan hak politiknya kepada para politikus busuk, juga akan berakhir dengan penyesalan ketika mereka ditimpa masalah. Rakyat bermental seperti inilah yang sesungguhnya mengambil saham atas kehancuran rakyat lainnya. Mereka ikut menanggung dosa karena mendukung para politikus busuk yang sesungguhnya juga mereka tahu calon yang diusungnya bermental jahat. Toh, perbuatannya itu juga menjadi boomerang bagi dirinya.

Mereka menjadi bahan permainan atas janji-janji menyelesaikan masalah-masalah yang menimpanya. Bahkan mereka hanya akan menjadi sumber eksploitasi bagi para politikus busuk untuk menyalurkan aspirasi mereka sambil memeras para pengusaha atau pun para penguasa.
***
Rakyat seharusnya diberi kesadaran akan hak-hak politiknya. Mereka perlu diberi pemahanan, bahwa umbul-umbul, disertai simbol rektorik belum tentu sebagai wadah terbaik untuk menyalurkan aspirasinya. Mereka perlu mengetahui, siapa figur dan bagaimana kualitas calon mereka. Mereka harus mengingat daftar rekaman dosa di kepala, bahwa figur-figur busuk tak layak dipilih untuk mewakili mereka baik di pusat maupun di daerah. Karena satu keputusan para politikus busuk itu, dampaknya menimpa jutaan rakyat

Read more...

TAMAN ILMU

ALANGKAH indahnya jika kampus itu diibarakan sebagai sebuah taman ilmu. Sebuah taman yang dihuni manusia-manusia beradab dan berakal sehat. Yang menjadikan akal budi sebagai pijakan, dan produk pikirannya menghias dan menaburi sisi kemanusiaan dan pengembangan ilmu pengetahuan di sekitarnya. Sebuah taman tempat orang untuk bebas mengeruk pengetahuan dan mengais-ngais kebenaran yang terpendam denga melahirkan karya-karya baru.

Betapa sejuknya taman itu, bila salam perdamaian dan kreativitas bertaburan menyambut kedatangan mahasiswa baru. Mereka melindungi mahasiswa baru dari cemaran pikiran dan pola laku yang terformat. Mereka membersihkan sampah-sampah pikiran yang telah diisi dengan persepsi-persip keliru.

Semakin sejuknya taman ilmu itu, bila mereka yang bersilang pendapat menjadikan pengertian dan pemahaman sebagai alat perekat mereka. Alangkah hikmahnya, bila setiap persoalan ditempatkan sesuai duduk persoalannya, dan setiap sengketa pribadi diselesaikan dengan renungan, ketajaman pikiran, silaturrahmi agar tidak terhadap keharmonisan taman itu.
***
Tapi bagaimana menumbuhkan dan melahirkan sosok yang mampu menyelesaikan masalah? Gilbert Highet memiliki jawaban:

Mereka –para pemikir besar- tidak tumbuh seperti pepohonan. Mereka tidak dimuliakan seperti hewan-hewan pilihan. Namun ada dua cara memupuk mereka selagi tumbuh; berilah mereka tantangan dan rangsangan. Letakkan masalah-masalah di hadapan mereka. Hasilkan sesuatu untuk dipikirkan oleh mereka. Diskusikan tiap tahap pemikiran mereka. Usulkan kepada mereka untuk melakukan percobaan. Minta mereka mengungkapkan apa-apa yang tersembunyi. Lalu anjurkan mereka agar mengenal pemikiran-pemikiran yang menonjol. Itulah tawaran kiatnya.
***
Alangkah disegeninya sebuah taman ilmu itu, bila penghuni taman itu tidak saja melahirkan intelektual-intelektual muda, tetapi pemuda-pemuda yang berteriak garang terhadap para penjarah negeri, terhadap para penjarah hak-hak rakyat, seperti prajurit-prajurit muda yang mengibarkan bendera perang terhadap para koruptor.

Alangkah bangganya mereka yang menempatkan anak-anaknya di taman ilmu itu, karena mereka dapat menjadi penyambung lidah dan pelapis dada ketika kesewenang-wenangan merajalela.

Sungguh, mereka begitu bangga, namun kebanggan itu kini hanya milik impian saja

Read more...

KAMBING HITAM

TERNYATA kita kadang kehilangan nilai kemanusiaan. Kita sendiri menggali lubang lalu menceburkan diri ke lembah nista. Kita membangun pondasi diri dalam kebiasaan, selanjutnya membentuk karakter kita. Kemanusiaan pun kita surut, namun jarang kita rasakan, sebab kita kadang hanya berbicara berdasarkan muatan kepentingan egoisme semata. Sumber penyabab semua itu ternyata adalah jabatan politis yang selalu saja kita incar. Kita menjadikan jabatan politis, jabatan publik seakan adalah menjadi milik kita.

Kita melupakan, bahwa justru itulah yangmenghisap nilai-nilai kebahagiaan di sekeliling kita, yang menimbulkan keresahan dan petaka hidup. Ketika jabatan politis telah kita rengkuh, ia memusat lalu menjadi milik pribadi, milik keluarga. Bahkan kita membangun dinasti dan jaringan laba-laba kekuasaan dalam keluarga dan relasi kita.

Khalil Gibran pernah bertanya tentang itu. “Apakah engkau ahli politik yang berkata dalam hati: Aku akan memanfaatkan negaraku bagi kepentinganku sendiri? Jika demikian, engkau adalah benalu yang hidup pada daging orang lain.

Memang, jabatan politis adalah salah satu pilihan dalam peta sandiwara dan catur politik kita keseharian. Namun, daya magnet jabatan itu telah menghisap egoisme pribadi hingga melupakan sisi yang mendasar dalam hidup, bahwa kita dianugerahkan nilai-nilai kemanusiaan bahkan sifat kenabian. Namun, kita pun kadang menepis semua itu karena telah beralih ke dotrin-dotrin politik. Dunia politik adalah dunia kotor. Memangsa atau dimangsa dalam pilihan politik. Bertahan dari jabatan dan menyerang lawan adalah pertahanan terbaik.

Kita pun segera berusaha menjaga jabatan politis kita nama baik. Bahkan dengan ketidakmampuan kita, kita melepaskan dengan mencari tumbal. Tumbal itulah bernama Kambing Hitam.

Dengan mudah pula, kita membalik kenyataan. Kita mencari kambing hitam dan memeliharanya dalam catur politik kita sebagai biang keladi.
***
Di lembaga universitas, kita mengajar agar yang dididik patuh, selalu menjaga etika. Kita menasihati agar selalu menghargai. Segudang nasihat dan petuah telontar di bibir kita. Namun di alam realitas, kita membalik realitas itu, tidak membumikan kata-kata kita dalam keteladanan.

Mungkin inilah yang disebut kemunafikan. Tapi adakah kosa kata kemunafikan dalam panggung politik kita. Apalagi para politikus-politikus ikut mencemari dunia kampus? Kita pasti menjawab itu adalah strategi, bukan kemunifikan, kemunafikan hanya ada pada agama.

Read more...

DEMONSTRASI ITU TUTUP JALAN YA?

By. M. Ishak Zainal

SEJUMLAH mahasiswa menutup jalan. Mereka memalang kendaraan mereka tepat di tengah jalan. Mereka pun membakar ban-ban bekas. Gumpalan asap membubung. Kendaraan umum tak bisa lewat di tengah panasnya sengatan matahari. Para mahasiswa dengan semangat berapi-api meneriakkan protes. Mereka dengan fasihnya berpidato tentang kesewenang-wenangan para penguasa.

Rakyat bukannya bangga, atau ikut mendukung. Malah mereka mengeluhkan sikap segolongan yang mengaku intelektual muda. Bahkan ada yang mengumpat habis. Mengapa? Di deretan penumpang itu, ternyada ada Pasien yang butuh pertolongan darurat. Mereka butuh perawatan di unit gawat darurat (UGD), sementara yang lainnya terpaksa berjalan kaki berkilometer, yang lainnya harus bersabar karena terlambat menuju bandara.

Apakah mereka yang menutup jalan itu tengah demonstrasi atau melakukan penindasan baru? Pasalnya, nyaris setiap berdemontrasi dengan mengusung isu lokal, mereka menutup jalan, penindasan pun makin berlapis, ditindas para penguasa, selanjutnya ditindas lagi para penentang kekuasaan.

Pada awalnya, kita memaklumi bahwa dengan tutup jalan adalah upaya menarik perhatian publik. Namum belakangan, gerakan tutup jalan ini menjadi sebuah kebiasaan malah menjadi tradisi buruk bagi gerakan demonstrasi. Ini menjadi persoalan kemudian, karena seakan intelektual muda itu kehabisan daya pikat, kreasi atau ide-ide brillian untuk menarik perhatian publik.

Di sinilah tampaknya kita perlu mempertegas kembali pemahaman tentang demonstrasi. Demonstrasi itu adalah salah satu cara, metode, sarana bukan tujuan. Banyak cara untuk mencapai tujuang.

Kadang di tengah seminar serius para pejabat, sekelompok mahasiswa diam-diam membentangkan spanduk protes secara tiba-tiba. Kadang-kadang harus berulah untuk menarik perhatian para pencari berita. Bahkan berbagai aktraksi terpaksa mereka lakonkan untuk mendapat perhatian serius. Jadi tutup jalan itu bukannya solusi, tetapi menjadi polusi dalam gerakan. Kecuali isu yanga diemban itu berskala penting dan berskala besar, tentu tak ada jalan lain kecuali harus tutup jalan, demi menarik perhatian dan dukungan rakyat.

Kesalahan memilih cara aksi kadang tidak mencapai tujuan demonstrasi itu. Niat dan tujuan baik, tetapi aksi yang dilakukan justru bertentangan dengan kepentingan umum, bukannya mendapat dukungan, malah mendapat cemohan.

Karena itulah, untuk menyuarakan suara rakyat, tidak harus dengan cara mengorbankan rakyat. Kita tidak ingin berpidato berapi-api, dengan tangan dikepal, mata merah penuh semangat, sementara rakyat buang muka lalu mengumpat kita diam-diam, karena tidak senang dengan cara kita. (Harian Fajar, 11 Juni 2001)

Read more...

DUNIA KAUM DEMONSTRAN

By. M. Ishak Zainal

DI maza penjajahan kolonelisme Belanda, seorang pejabat Belanda pernah berpesan kepada seorang pimpinan perguruan tinggi (rektor), agar anak-anak muda pembangkang segera dipecat dari dunia kemahasiswaan. Tapi Rektor tidak melayani paket pesanan itu seperti masa kini. Mereka malah berpesan untuk melindungi anak-anak muda yang dianggap para pemberontak itu.

“Jagalah anak-anak muda pemberontak itu, karena kelak merekalah yang akan memimpin dan mengatur bangsanya.” Anak muda pembangkang itu adalah Soekarno beserta kawan-kawannya.

Cerita di atas sebuah pengalan dari cerita anak muda-mahasiswa yang resah atas tekanan penguasa. Mereka resah, karena kaum aktivis diperlakukan bagai hidup di bukan negerinya, ditikam diculik bahkan dibunuh.
***
Anak-anak muda memang perlu dijaga, termasuk menjaga kemurnian idealismenya. Di sini membutuhkan kearifan dalam menuntun mereka dalam pencarian kebenaran kenyataan. Mereka membutuhkan saluran ketika diperhadapkan antara kebenaran dalam pikiran dan kebenaran berdasarkan kenyataan. Karena saluran idealisme yang terpasung kelak akan berujung, frustasi atau menumbuhkan sikap radikalisme dalam gerakan.
***
Di dunia kemahasiswaan, kerap melintas sejumlah mahasiswa menyalurkan aspirasinya melalui aksi demontrasi. Kita menyaksikan betapa mereka penuh semangat menerikkan keresahan. Bahkan tak jarang kita kagum terhadap mereka tentang kecemerlangan intelektualnya yang mendobrak opini public. Mereka mampu merekonstruksi realitas lain yang telah terisi iklan-iklan politik dan sejumlah konflik kepentingan. Kita dihentakkan oleh mereka dengan cara memikat dan merebut perhatian publik dalam mengungkap kenyataan-kenyataan yang selama ini mungkin kita sepelekan.

Dunia kaum demonstran memang adalah dunia yang meraih kegembiraan yang begitu mahal. Dunia yang begitu pelik dan penuh resiko. Dunia yang menimbulkan rasa perih, ketika menemukan berbagai kenyataan yang absurb dari harapan yang selalu dijanjikan.

Itu pula sebabnya, dunia kaum demontran adalah dunia yang begitu konflik dan teramat susah ditebak. Mereka selalu saja merefleksikan keresahannya yang senantiasa kita atur dengan kontrol yang begitu serba ketat.

Dunia demontran mungkin panggilan hidup untuk meneriakkan keresahannya di jalan-jalan. Ketika dialog dan seminar bukan sebagai solusi atas berbagai penyelewengan di negeri ini. Dunia demontran adalah dunia yang penuh resiko namun dunia yang tak pernah mati atau ditinggalkan zaman. Setiap generasi tumbuh untuk memainkan perannya sesuai dengan momen panggilan zaman, meskipun kadang menjadi tumbal atas perjuangannya. (Identitas. 21 Juni 1996)


Read more...

KEPADA KAUM REFORMIS

By. M. Ishak Zainal

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(Penggalan lirik lagu Iwan Fals)

KAWAN, penculikan dan kematian mahasiswa mengetuk jendela hatimu. Lalu nurani terpanggil. Engkaupun turun jalan. Berbaur hingga menjadi kekuatan massa. Panji-panji gerakan moral kau lakonkan. Lalu bendera solidaritas sesame mahasiswa kau kibarkan. Engkau mengecam penculikan dan pembunuhan mahasiswa Tri Sakti. Engkau dipersatukan oleh duka : Luka mahasiswa adalah lukamu juga.

Duka menyelimuti hatimu. Duka menghempas ketakutan, menyadarkan alam bawah sadarmu. Keberanianmu pun muncul seiring tak sakralnya lagi arti sebuah ancaman dan resiko. Kesucian idealisme sebagai pemuda-pemudi mahasiswa telah menjadi bendera perjuanganmu. Lalu engkau mengibarkan bendera perjuangan moral. Sejarah telah memanggil. Dan orang-orang harus disadarkan atas hak-hak yang dihisap para penguasa di negeri ini.

Engkau turun jalan, mengemban amanat dan menyuarakan jerit mahluk terluka. Kau bangunkan rakyat dari buaian panjang. Penyelewengan kau kabarkan ke mana-mana. Mereka yang hanya menjadi benalu di negeri ini, serakah, bermental penindas tiba-tiba gematar menghadapimu. Mereka pun ramai-ramai mengganti topeng mereka meski tetap dengan wajah yang sama : Para penindas. Mereka ketakutan lantaran hak-hak rakyat yang mereka tumpuk di rekeningnya akan terbongkar.

Kawan, berbagai ancaman yang membayangi langkahmu rupanya tidak menyurutkan perjuanganmu. Bahkan semakin memperkokoh semangat perlawananmu. Engkau berjuang serentak, bahu membahu dan menjalin solidaritas mahasiswa.

Soeharto pun terpaksa turun dari tahta kepresidenan 21 Mei 1998. Dunia lain khususnya di negara-negara diktator meniru aksi gerakan damai itu. Engkau pun tercatat dalam sejarah reformasi. Secara kolektif engkau adalah pelaku reformasi 98. Perjuanganmu adalah sejarahmu sendiri.

Kehengkanan Soeharto dari kursi kepresidenan meninggalkan kegembiraan dan sorak-sorai di jalan. Air mata haru mengalir sebagai simbol kemenangan. Engkau dan mereka menangis bangga saling berpelukan. Rakyatpun tak luput terharu sebagai ungkapan terima kasih atas upaya dirimu sebagai reformis-reformis muda. Wahai para demonstran, kini kemenangan telah kau raih.

Iya, kemenangan berada di pundakmu. Namun, kemenangan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Lengsernya Soeharto bukan pula simbol berakhirnya perjuangan. Bukan! Genderang reformasi damai pun memanggilmu untuk kau kobarkan di jalan-jalan, di kantor-kantor, sebab perkara di negeri ini belum sepenuhnya tuntas. Masih banyak penyelewengan terselubung yang belum tersinngkap.
***

Kawan, kemenangan dan kekuatan memang telah di pundakmu. Namun jangan lupa, berdiri di atas kemanangan dan memanfaatkan kekuatan bukan tugas ringan. Menghindari dendam sejarah dalam berjuang bukan tugas gampang, meskipun rezim orde baru telah membangun mental-mental pendendam atas saham berbagai penindasannya.

Engkau adalah pejuang moral. Bukan mencontoh Pol Pot di Kamboja sana, membantai dua juta rakyatnya yang antikomunis. Bukan pula mencontoh pelaku orde baru ketika berhasil meruntuhkan kekuasaan orde lama, yang membantai habis komunis atau pun bukan komunis. Mereka yang dinilai sisa komunis dikejar, dilibas bahkan dibantai tanpa melewati proses pengadilan. Engkau orde reformasi. Moral sebagai panglima dan rasioanal adalah wilayah aksi perjuanganmu. Karena itu kawan, pertahankanlah moral perjuanganmu, ketajaman rasionalitas, kesucian dan komitmen atas visi perjuanganmu, sebab itulah yang membuatmu tetap bertahan untuk memberantas berbagai manipulatif di negeri ini.
***
Kawan, sejah lengsernya Soeharto, engkau masih tetap turun pawai mengemban amanat reformasi di tingkat lokal. Di berbagai kantor pun kedatanganmu disambut spanduk besar : Kami Mendukung Reformasi yang Konstitusional. Di balik spanduk, engkau berdiri bagai jaksa-jaksa muda. Berdialog dan menampik mereka, engkau pun menggugat : Di mana para penyeleweng amana rakyat dan paling banyak menanan saham atas hancurnya rakyat dan bangsa ini. Gugatanmu menggema bak penuntut maliakat utusan langit sana.
Di tempat mereka, engkau menagih tanggung-jawab masa lalu mereka. Engkau membuka kotak pengaduan, mengidentifikasi kebenaran issu, engkau lalu memisahkan antara isu dan fakta untuk mencegah para badut-badut politik dan fitnah.

Engkau sungguh bijak, arif menagih tanggung jawab masa lalu mereka melalui jalan kemanusiaan, keadilan dan menyeretnya ke lembaga pengadilan, sesuai sukma dan semangat reformasi itu.

Selamat berjuang kawan dan perjuanganmu adalah pelaksanaan kata-kata. Tetap melangkah berarti engkau bergerak menuju tujuan reformasi itu sendiri. (Identitas, Mei 1998).

Read more...

SIMPATISAN UNTUK DEMONSTRAN

By. M. Ishak Zainal

KITA mesti semarakkan hidup dengan perjuangan. Kita harus tegakkan keadilan di atas pengorbanan. Kita perlu menyambung ruang gerak perjuangan kita dengan aksi solidaritas. Karena solidaritas adalah bendera mahasiswa di atas singgasana kegimilangan perjuangan.

Solidaritas ibarat matahari. Ia menerangi sukma rakyat di atas pelita perjuangan. Ia mengharumkan sejarah kehidupan. Ia membakar hangus kesewenang-wenangan.

Solidaritas juga ibarat air yang mengalir di benak hati yang gersang. Ia ibarat penyejuk jiwa di atas semangat perjuangan. Perjuangan aksi, semangat cinta dan semangat pengorbanan.

Karena itu wahai para pemuda mahasiswa, luluhkan kebencian itu dengan kedamaian di bawah bendera solidaritas. Solidaritas cinta terhadap keadilan dan kebenaran.

Demi sebuah cinta terhadap tanah tempat kita berpijak, maka tebas duri-duri dan virus-virus tanah air; korupsi, kolusi dan segala bentuk penindasan, agar tanah tempat kita berpijak tidak ditumbuhi virus-virus subversif.

Karena itu pula wahai demonstran, berjuanlah engkau yang hanya ditunggangi oleh nuranimu sendiri, oleh derita rakyat, agar aksi cemerlang di atas singgasana kesucian. Karena nurani adalah hakim perjuangan yang kelak akan mengadilimu sepanjang hidup.

Karena itu wahai demonstran, berjuanglah engkau meluruskan dan menyuarakan hak-hak yang tertindas. Jadikanlah dirimu sebagai sepatu hak-hak kekuasaan yang menindas. Jadikanlah suara-suara kritismu sebagai peluru, hati nuranimu sebagai pelaktuknya, dan doa orang-orang tertindas sebagai pelapis dadamu. (30 Nov. 1995)

Read more...

PERGOLAKAN NURANI

By. M. Ishak Zainal

KISAH pergolakan selalu saja hadir di depan kita; pergolakan rakyat terhadap penguasa, pergolakan nurani terhadap kesewenang-wenangan. Karena itu pula, kisah ini tak lepas dari sejarah kehidupan manusia. Kisah itu pun membentuk suatu pemahaman; Betapa malang suatu bangsa yang tidak memetik pesan dari sejarah itu sendiri.

Kisah pergolakan massa sesungguhnya berawal dari kisah pergolakan nurani. Ketika nurani hanya bergolak dibalik ketidakberdayaan menghadapi benteng kesewenang-wenangan. Ketika banyak mulut yang terkatup, diam seribu bahasa di tengah kesadaran akan hak-haknya yang terengut dan diinjak sewenang-wenang.

Dalam diam, dalam kebisuan ada rasa perlawanan yang bergolak, yang juga merisaukan pikiran ketika mengingat arti sebuah hak yang diselewengkan.

Di tengah kekuasaan otoriter, suara-suara kebenaran selalu tereduksi. Setiap penuntutan hak selalu diperhadapkan dengan kata “AWAS”. Sebuah ancaman bagi para penuntut hak-hak.

Kita tak mudah memang berteriak dan menuntut hak di tengah ancaman kata AWAS. Karena kata AWAS begitu angker dan sangat sakral untuk dilabrak. Ia memiliki resiko untuk melangkahinya. Ia bisa menyuramkan masa depan. Ia dapat mematahkan semangat hidup bahkan Ia dapat melumpuhkan keyakinan hidup.

Tak mudah memang melangkahi wilayah itu. Hanya sikap dan keberanian terhadap resiko yang mampu melabrak ketakutan-ketakutan itu. Keberanian untuk melepaskan himpitan ketakutan, melangkahi berbagai cibiran, dotrin pengaturan reski, tawaran pangkat maupun kedudukan.

Kadang keberanian itu mencuat ketika diam membisu tak lagi bermakna. Ketika kata AWAS sudah membunuh kebebasan hidup dan kebahagiaan hidup. Dengan kata lain, pergolakan dan keberanian itu akan muncul ketika kesabaran sudah berada dititik puncak.

Read more...

AMANAH SANG IBU

By. M. Ishak Zainal

SUATU masa, seorang ibu menjelang kematiannya, menitip amanah kepada anaknya.
“Nak, jujurlah pada dirimu sendiri. Jangan lupa untuk selalu belajar pada pengalaman, pengalaman dirimu juga pengalaman orang lain.
Pengalaman itu adalah sejarah hidupmu. Ia tak pernah bohong. Karena itu wahai anakku, jadikanlah kejujuran itu selalu menghias pengalamanmu. Hiasilah selalu hidupmu dengan kejujuran.
Iya, belajarlah untuk tetap jujur, walau pun terasa berat untuk diamalkan dan ditegakkan di tengah hidup kemunafikan. Tetaplah belajar dan selalu berusaha untuk jujur. Sebab ia akan berbekas di tulisan, dan berbekas di ingatan. Ia akan menjadi saksi peradaban sekalipun orang berupaya untuk menutupi dengan segala kekuasaannya.
Wahai anakku, janganlah engkau menyepelekan kejujuran itu. Kalau pun kau menyepelekannya, maka suatu waktu jangan engkau marah, kecewa ketika orang membongkar ketidakjujuranmu.
Jikalu suatu saat orang ramai-ramai menghujatmu, lantaran ia mengetahui ketidakjujuranmu yang mengorbankan ratusan jiwa manusia, maka janganlah kecewa apalagi sedih. Hadapilah dengan tabah dan tobat. Tak perlu mengelak sedemikian rupa hingga lebih memperpuruk kemunafikanmu. Hadapilah dengan tabah, karena kemunafikan memiliki hukum tersendiri. Kemunafikan dapat menjadi bumerang pada suatu saat, ketika engkau tak lagi memiliki uang dan kekuasaan untuk menutupinya. Pengadilan kejujuran akan menuntutmu, mengadilimu, walau pun pengadilan itu sendiri berada dalam nuranimi.
Belajar dan berusahalah untuk selalu jujur, namun jangan mencari kejujuran pada orang munafik. Kejujuran hanya ada pada mereka yang mencintai dan menjaganya.
Ingatlah pesan ini nak, jujur dan sekali lagi jujurlah, sebab hanya ini warisan yang aku titipkan kepadamu, tidak harta juga kekuasaan.” (Pedoman Rakyat, 3 Agustus 1997)

Read more...

KEPADA ADIKKU (Keprihatinan di Tengah Ospek)

By. M. Ishak Zainal

DUDUKLAH wahai Adikku. Aku kualunkan gubahanku. Jangan tanya untuk apa, karena ini hanyalah sebuah kegundagulanaan. Jawaban atas kegundahgulanaanku ini hanya kau yang memilikinya. Bukan Aku.

Setiap kali kutatap matamu, terpencar kesedihan dicerminan matamu. Di sana kutemukan wajah-wajah beringas yang selalu saja menusuk sukmamu. Engkau telah diperkenalkan sebentuk kekerasan di tubuhmu. Aku tak tahu semua itu wahai Adikku, apakah ini semacam perkenalan kampus, pendidikan, pengajaran sesat dotrin sesat, salah persepsi, atau malah dendam kusumat turun-temurun.

Teramat sulit untuk menjawab atau menyimpulkan semua itu wahai Adikku, karena masing-masing orang punya jawaban, termasuk engkau wahai Adikku.

Memang, mencari jawaban tidaklah begitu muda di tengah kekerasan ini, karena jawaban yang diberikan dianggap sebagai prasangka, pembual, penghianat tradisi juga dianggap tak mengerti. Tapi percayalah, tidak berarti kita kehilangan jawaban? Tidak. Jawaban tetap ada, walaupun kerongkongan seakan tercekit, bibir gemetar dan terpaksa berteriak, “Iya” walaupun sesungguhnya sukma mengatakan “Bohong”.

Rasanya, dalam banyangan pikiranmu, terasa sudah mulai ditancapkan lambang, semacam bendera. Setidaknya ada semacam semangat simbol menambatkan diri dalam suatu kelompok fakultas. Mereka saling menancapkan dan mengibarkan bendera masing-masing dan menjanjikan solidaritas sesama fakultas. Kibaran bendera itu seakan-akan bertuliskan; ini adalah kelompok kami, bukan dia juga mereka. Pengetahuan ini kudapatkan bukan dari dosenku dik, tapi dari instinku.

Bendera itu dianggap sebagai asal kita, di mana semacam tempat berdiri dan menpertahankan egois fakultas kita. Kita bertengkar karena kita memang ditelah diperkenalkan sektarianisme. Ini juga tampaknya membuat lingkungan kita suram dari harmoni lambang kebersamaan di bawah payung universitas. Akibatnya, kita pun dipetakan dan melangkah dalam pengkotakan, bukan persambungan ruang gerak kita di bawah atap yang luas ini.

Memang merisaukan Adikku, karena semangat yang tertancap dalam dotrin tidak selamanya mengenakkan kebebasan akan jiwa kita. Tapi juga menyedihkan. Ketika semangat yang tertancap itu tidak lagi bermakna kemerdekaan berpikir. Kita pun pada akhirnya saling mengecilkan dengan saling mengklaim: Kita yang terbaik. Apa boleh buat, kita mesti mengatasi kesepian dan kesendirian kita dalam upaya meraih semangat kebersamaan universitas.

Banyak mungkin yang kecewa, mencibir bahkan menganggap kita sebagai penghianat ketika kita mencoba melintasi peta fakultas yang menghimpit ruang batas gerak kita. Karena kebersamaan katanya punya batas.

Kebersamaan yang mereka dotrinku itu sesungguhnya kepalsuan kebenaran. Mungkin juga kebersamaan itu ternodai ketika kebencian person merasuk di tengah massa dan menyebarkan kebencian atas tetangga fakultas kita di sana. Kalau kebersamaan seperti ini selalu terulang wahai adikku, apa boleh buat, kita harus selalu terpaksa mengulangi sejarah buruk, perkelahian massal. Betapa menyedihkannya semua itu, karena kita seperti keledai.

Kebersamaan memang membuat kita kuat dan tegar, ketika kita harus menghadapi kesewenang-wenangan kekuasaan. Tapi apa arti semua itu, ketika kebersamaan tidak lagi sebagai keleluasan bergerak. Kebersamaan yang menggangu stabilitas pikiran kita. Kebersamaan untuk saling memangsa antara satu fakultas dengan fakultas lainnya.

Pada saat semangat kebersamaan menggelora, seakan semangat tak peduli lagi tentang tenggang rasa. Semua ini justru membuat gap antar kita. Kita berada di bawah naungan kebersamaan semu, kita setuju atas kebersamaan itu, tapi sesungguhnya jiwa kita tak menerima kebersamaan untuk saling menghancurkan solidaritas persatuan kita.

Read more...

KRITIK OSPEK

OSPEK dari masa ke masa memiliki nuasa tersendiri. Banyak pengalaman unik dan cerita berkesan. Namun, semua itu telah bergeser. Banyak yang mulai prihatin, karena semakin jauh dari rel substansi maupun fungsi Ospek. Ospek semakin mereduksi potensi dasar manusia, yaitu proyek mengikis kemanusiaan. Dari segi ekonomi, Ospek hanyalah proyek-proyek untuk menghisap dana orang tua mahasiswa. Mereka, calon mahasiswa sendiri menyerahkan uang selanjutnya mendapat pukulan dan tendangan. Kekerasan lebih menonjol dari penetesan nilai-nilai idealisme.

Sinisme semakin mewarnai citra buruk Ospek. Kritikan-kritikan tajam itu adalah suatu cermin dari realitas. Ospek dianggapnya hanyalah sarana pelampiasan dendam, tradisi buruk yang harus segera diubah, karena tak jarang Ospek membawa korban.

Masih punyakah kita hati nurani? Demikian pertanyaan ketika kekerasan semakin dipamerkan di tengah-tengah mereka?

Pertanyaannya memang menohok substansi keberadaan kita sebagai manusia. Artinya, kita bukanlah manusia jika tidak merasakan penderitaan atas penyiksaan kita pada yang bernyawa. Artinya, bahwa mereka calon mahasiswa itu juga punya hati atau kulit seperti kita. Ketika mereka dicubit tentu akan sakit. Yang jelasnya, mereka itu bukanlah budak-budak kita. Mereka adalah titipan tuhan untuk tidak dilecehkan. Apalagi diperlakukan tak senonoh. Mereka membutuhkan kita untuk diperkenalkan dan mengarahkannya mengenal dunia yang akan mereka masuki.

Ospek hanyalah sarana. Ia instrumen bukan substansi. Bukan sebagai kewajiban dasar aktivitas dan tujuan kehidupan kemahasiswaan. Bila instrumen dengan metode kekerasan, merusak dan tidak memperkuat sisi idealisme mahasiswa, maka tentu kita akan bertanya, untuk apa sarana itu jika hanya akan merusak? Sebab jangan sampai kita berteriak tentang moral di jalan-jalan sementara ketika kita menghadapkan moral kita ke cermin, malah cerminnya pecah berkeping-keping tak mampu menatap kebejatan moral kita.

Pernyataan selanjutnya adalah, bagaimana memanusiakan Ospek melalui metode baru? Mampukah gelora idealisme dititipkan kepada mereka yang kelak mereka akan emban untuk direalitakan? Selanjutnya bukankah mental kekerasan itu justru membuat calon mahasiswa bermental budak?

Pertanyaan korektif ini perlu direnungkan. Karena selama ini, yang terjadi seperti perintah dalam dunia militer, bagaimana mahasiswa baru patuh sepenuh-penuhnya tanpa perlu bertanya balik. Ketika mereka protes, mereka cendrung diperhadapkan dengan kekerasan. Kalau mereka melawan, kita ramai-ramai mengadilinya dengan cara kita, dan pada akhirnya mereka menjadi bungkam. Kita menjadi penguasa baru, dan mereka adalah calon korban kita.
***
Ospek di mata mahasiswa baru adalah kesan pertama. Ia membentuk persepsi berdasarkan pengamatan dan pengalamannya, bahwa inilah Ospek meskipun tidak sesuai dengan defenisi di buku. Realitas metode penyambutannya akan mewarnai persepsinya.

Jika kita menggunakan metode kekerasan, maka persepsi kekerasan akan terbentuk. Jika kita menumbuhkan metode dengan iklim suasana kritis, demokratis, maka pikiran-pikiran alternatif akan muncul yang pada akhirnya akan menpengaruhinya pada saat memiliki peran di dunia kemahasiwaan. Bila kita menonjolkan simbol-simbol positif: Selamat Datang Wahai Anak-Anak Bangsa, Selamat Datang Intelektual Muda, maka tentu akan menimbulkan kebanggan serta motivasi tersendiri. Tapi jika kita menyambutnya dengan berbagai simbol-simbol kekerasan, maka tentunya, mereka bisa jadi berpersepsi ternyata kita masuk dalam dunia barbar, meski namanya tempat para kaum intelektual.

Read more...

REKRUITMEN DOSEN

By. M. Ishak Zainal

REKRUTMEN dosen adalah petunjuk. Di sana sumber petunjuk untuk melihat bagian wajah almamater apakah berkualitas atau penuh borok.

Di rekruitmen sana mencerminkan, adakah mereka yang memenuhi lembaga itu cenderung kepada mereka yang menjunjung ilmu sebagai akademisi, atau lembaga sana hanya persekongkolan pemburu titel, perselingkuhan antara pencari posisi dengan akademisi.

Maka, amatilah petunjuk itu, bila ingin mengetahui di wilayah mana sesungguhnya anda berada. Sebab di sana juga membiaskan apa adanya. Bila pintu seleksi itu buruk, maka situasi dan orang-orangnya tak jauh dari situ. Jadi jangan terpedaya oleh promosi, iklan-iklan yang selalu mengecoh calon korbannya.

Lebih jauh lagi, bila peserta didik di kampus itu memendam segompok keluh kesah, maka tengok pula wajah-wajah pengajarnya. Bila pengajarnya tidak mendidik, liriklah metode rekruemennya. Di sana juga bakal ketahuan sumber keluhan pelajar. Di sana juga bercerita orientasi calon dosen itu sendiri. Mereka memilih pilihan dosen karena dekat dengan penguasa akademik, selanjutnya mungkin karena tak ada pekerjaan lain di luar yang bisa menampungnya.

Kita tidak semudah itu percaya adanya pengajar yang berorientasi keilmuan, dengan mengisi dada peserta didik dengan akal dan penuh budi. Bahkan kepada mereka yang titelnya berderet angkuh sekalipun. Bahkan mungkin sederet gelar juga tidak mencerminkan perilaku sebagai intelektual sejati. Jadi tidak serta merta dengan titel itu membuat kita berdecak kagum lalu terpesona. Kita hanya percaya kepada segelintir saja. Yang kita percaya sepenuhnya adalah egoisme, yang dihuni mengintip gelar dan kedudukan dan status sosial.

Bagaimana mungkin bisa diterima akal sehat? Lembaga pendidikan kita bagai mesin rusak, yang hanya melahirkan manusia-manusia egois. Mereka yang dididik harus segera cepat meraih sarjana, penuhi persyaratan, lalu segera berdiri angkuh di depan mahasiswa. Puluhan mahasiswa bergantian menyaksikan dan mempertanyakan mereka. Siapa mereka, bagaimana komitmen keilmuannya? Semua tak jelas alamat dan komitmennya.

Bagaimana mungkin mereka bakal paham tentang aspirasi, nurani, dunia kemahasiswaan, komitmen keilmuan, kalau mereka ditempah dari dasar egoisme dan rekreutmen rapuh. Bagaimana mungkin, mereka jarang tersentuh dan berbicara dari hati nurani ke hati nurani kalau mereka sendiri tak pernah mau memahami dunia tempat mereka bergelut.

Dan itulah yang tengah terjadi, karena yang begitulah menjadi harapan para petinggi kampus. Kita terjebak dalam simbol-simbol gelar, bahwa dengan sekolah tinggi, gelar berderet segalanya dapat terselesaikan. Bahwa dengan jabatan, kita mampu membuat orang terpesona.

Mereka, kaum terpelajar, yang berani berkata “tidak”, ketika semua berkata “ya” harus menyingkir. Mereka yang dinilai tidak loyal pada penguasa kampus, aktivis, fungsionaris, pemberontak terpaksa urut dada dan dengan hormat harus menyingkir. Harus menyingkir, karena dapat merusak statusqou mereka yang telanjur nikmati.

Karena itu wahai kaum aktivis, tak perlu resah bila suatu waktu engkau terdepak. Cinta terhadap almamatermu belum memiliki tempat di sisi mereka. Tempat itu sudah terpaket dan dipesan oleh mereka yang mempribadikan jabatan.

Read more...

BJ HABIBIE

By. M. Ishak Zainal

PRESIDEN BJ Habibi adalah kisah. Di sana kita dapat bercermin tentang demokrasi yang mulai mekar. Berkisah tentang mekarnya kebebasan pers, mendongeng tentang kebebasan intelektual dan menyaksikan komedi politik. Di kisah itu juga kita melihat ketabahan pemimpin dari rentetan hujatan dari segelintir intelektual dan pelaku politik.

Sebagai kisah, pena wartawan mengukir berderet kesalahan Habibie. Tidak hanya di kertas, di layar kaca pun tampak media menjadi mediator dari mulut sejumlah politik dan intelektual untuk menghabisi Habibie. Mulut mereka berbusa-busa dengan urat leher yang begitu tampak menegang. Akal mereka tampak briyan menganalisa, sekaligus mereka menunjukkan ke pemirsa kerendahan budi mereka.

Politisi, intelektual dan media massa sepertinya tak memberi ruang keadilan batin di tengah publik. Media lebih cenderung memilih dan mewawancara yang bersebelahan dengan Habibie. Di layar kaca tampak wajah-wajah ideal yang sibuk dengan perasaannya sendiri sebagai orang bermoral dan reformis.

Komentar apriori mereka jelas, bagaimana mengisi pikiran publik : Habibie prostatusquo, Habibie gagal. Mereka yang mendepak Habibie mungkin juga takut demokrasi tegak. Kuatir demokrasi akan mengabrukkan kepentingan pribadi dan golongannya.

Politisi, intelektual dan media massa yang melakukan penggiringan opini publik untuk kepentingan golongan sempit, tentu saja menumbuhkan pembodohan publik. Mereka membuat limbah pencemaran akal dan pelumpuhan budi. Intelektual seperti ini memang bisa memenuhi pikiran rakyat dengan pikiran sampah karena tidak mampu memposisikan diri sebagai intelektual sejati. Tidak jujur. Edward Shil (1972) berkomentar, intelektual di negara-negara kolonial adalah kalangan yang menciptakan kehidupan politik. Mereka adalah penghasut, pemimpin sekaligus pelaksana politik

Apakah komentar apriori ini dapat dijadikan bahan sejarah bahkan rujukan untuk dikisahkan kepada anak cucu bahwa Habibe gagal? Adakah sejarah itu benar dan adil jika di zaman Habibie media massa salah satu rujukan pengukir sejarah bertindak tidak adil?

Media massa yang menjadi corong para politisi dan intelektual pilihan begitu leluasa berkomentar demokrasi seraya tak memperlihatkan keindependenannya. Apakah ini adalah keadilan sejarah?

Bagaimana mungkin pijakan itu dijadikan sejarah apalagi mereka itu dilandasi sikap apriori, bermotif golongan dan tidak tahu nilai serta cara-cara demokrasi. Bagaimana mungkin membangun impian demokrasi bila para intelektual tidak memberikan landasan politik yang bermartabat kepada rakyatnya. Berderet lagi gugatan bila diurai lebih jauh.

Hari-hari kepemimpinan Habibie memang hari-hari komentar sinis dan penuh tekanan: Gagal, rusuh, revolusi sosial dan disintegrasi bangsa. Hujatan demi hujatan bertumpuk, mengendap di hati ribuan bahkan jutaan pemirsa. BJ Habibie mungkin hanya mempu menelan air liur menghadapi sinisme di luar dirinya. Ketabahannya ternyata menumbuhkan cinta dan simpati.

Mereka yang menghujat Habibie dan media massa menyalurkannya mungkin kurang menyadari bahwa mereka itu turut menabung dan menumbuhkan kebencian pada dirinya sendiri beserta golongannya di hati simpatisan Habibie. Mereka pendek pikiran dan lupa bahwa hujatan itu kelak menjadi bumerang ketika golongan mereka bertahta. Andaikan betul bahwa motif mereka menggeser Habibie karena Habibie adalah simbol Makassar? Jika motif itu betul, maka betapa tidak adilnya hidup di peta ini.

Di Makassar, puluhan ribu massa pemuda dan mahasiswa bergabung turun ke jalan. Mereka mulai mengibarkan bendera : Sulawesi Merdeka. Mereka sangat tersinggung dengan para intelektual dan politisi yang berpikiran sempit, dan fanatisme suku.

Di balik itu pula, di tengah hujatan dan tekanan terhadap BJ Habibie, cinta dan kebesaran jiwa para intelektual Makassar tetap terkabarkan. “Lebih baik kehilangan figur daripada kehilangan demokrasi,” kata Prof. Mattulada, dengan air mana menetes. Betapa berat ungkapan cinta itu, sekalipun demokrasi itu sendiri hanyalah harapan yang sekadar menjanjikan.

Toh, semuanya telah berlalu. Kini Habibie hanya meninggalkan sepenggal kebenaran yang terselubung. Suatu waktu, kelak kita akan merindukan sosok berjiwa seperti Habibie.

Di sini kita juga boleh bertarung, akankah ada sosok presiden berjiwa seperti Habibie. Kita bertarung dalam perjalanan waktu, dan masa yang akan membuktikannya Kita hanya percaya pada kerinduan iklim demokrasi seperti kepemimpinan BJ Habibie. (Makassar, 27 Oktober 1999)

Read more...

KEKAYAAN KITA ADALAH TRAGEDI

By. M. Ishak Zainal

KITA mesti mengukir tragedi apa lagi? Kita sudah kaya dengan rentetan fakta miris. Berulang kali rentetan konflik menodai peta wilayah kita. Jakarta, Pinrang, Makassar, Ambon, Sambas, Aceh dan banyak lagi daerah lainnya, dengan peristiwa kerusuhan yang susul menyusul.
Kerusuhan demi kerusuhan mengukir perjalanan para pengelola anak bangsa yang seakan sudah tak punya malu lagi. Dan ternyata di balik kerusuhan ini secara sadar maupun tak sadar diinginkan oleh para politisi, pengusaha dan penguasa. Lidah lentur mereka mencokoki pikiran dan membentuk persepsi rakyat, bahwa akan terjadi kerusuhan, media massa ramai-ramai mengutip pernyataannya. Kerusuhan pun siap dipicu, lalu meledak. Pikiran toh mempengaruhi tindakan.
Peristiwa yang terjadi ibarat tontonan film menarik. Setelah peristiwa berdarah berlalu, ada perasaan wah: Sukses membuat tragedi miris di bawah kepimpinan Beliau. Kepemimpinan Beliau itu memang tak becus. Beliau itu harus diturunkan.
Yang lainnya hanya diam atau seakan tak mengambil andil dalam kerusuhan berdarah itu. Mereka ramai-ramai membuat komentar, pernyataan keprihatinan.
Sayangnya, akhir peristiwa itu seakan hanya dikenang begitu saja. Penelusuran jekaknya terhapus. Siapa di balik kerusuhan itu tak diusut. Pelaku dan dalang di balik semua peristiwa itu ngadat di meja-meja hingga dianggap kasus itu telah terlupakan. Inilah sifat buruk para anak bangsa kita.
Apa yang tersisa dari kerusuhan? Anak-anak yatim piatu tiba-tiba bermunculan. Orang tua kehilangan anak, istri kehilangan suami dan warga kehilangan tempat tinggal. Mereka para pemimpin di negeri ini seakan tak menghargai nyawa manusia.
Rasa aman semakin sempit saja, ketika hukum, keadilan dan kebenaran diperuntukkan hanya orang-orang yang tak berdaya saja. Mereka yang memiliki kedudukan dan posisi yang kuat tak tersentuh hukum. Karena hukum seperti karet lentur diperuntukkan sesuai keinginan para penguasa. Karena hukum di negeri ini ditakar dengan uang seberapa banyak uangmu. Mereka yang tak berdaya, hanyalah calon-calon korban berikutnya di bawah penguasa yang tak memiliki hati nurani, tak memiliki integritas dan tanggung jawab moral kebangsaan.
Kita hari-hari belakangan ini memang seakan berada di rimba yang dipenuhi hewan buas. Bagai hidup menghadapi harimau-harimau lapar yang siap mencari mangsa yang tak berdaya. Hukum kita adalah hukum rimba. Siapa yang kuat dia bertahan. Siapa yang lemah menjadi santapan. Mereka yang diberi kewenangan kekuasaan dan kekuataan senjata tak jelas diperuntukkan untuk apa.
Toh tak selamanya hukum di tangan mereka. Rakyat juga memiliki hukum. Hukum rakyat juga tak mengenal aturan hukum. Mereka juga kelak tak mengenal siapa korbannya dan siapa penggeraknya. Yang mereka tahu, siapa yang berkuasa dialah yang harus bertanggungjawab terhadap hukum yang lemah saat ini.

Read more...

ATMOSFIR AKADEMIK HANYA SIMBOL

SESUNGGUHNYA seluruh civitas akademik mendambakan terciptanya atmosfir akademik. Atmosfir akademik yang ditafsirkan para petinggi Unhas sebagai suasana masyarakat ilmiah yang berlandaskan kebenaran, keadilan dan kejujuran.

Dambaan para petinggi kampus ini sebenarnya bukan hal-hal baru. Jauh sebelumnya, harapan mahasiswa sebelum masuk ke perguruan tinggi ingin menikmati bagaimana menimba ilmu sebanyak-banyaknya, hingga menjadi seorang intelektual - rasional yang berbudi.

Namun harapannya hanya berujung kekecewaan. Di realitas masyarakat ilmiah, mereka dibenturkan sebuah realitas staf para pengajar yang bermental penguasa, merasa benar dan ingin menang sendiri. Lebih-lebih lagi para pengajarnya hanya mengajar dengan metode peluru. Tidak ada dialog timbal balik antara dosen dengan mahasiswa. Dosen memperhadapkan ketumpulan intelektualnya dengan mengedepankan ancaman dan kewenangan pemberian nilai.

Para dosen adalah penguasa. Ia memiliki kekuatan apa saja untuk menggantung nilai mahasiswa. Dosen bagai dewa. Mereka mahasiswa yang kritis dan korektif terhadap materi serta metodenya dicap sebagai mahasiswa tidak etis, tidak sopan.

Interaksi pun menjadi ruwet. Suasana akademik menjadi sumpek. Akhirnya sikap memilih diam di kalanangan mahasiswa adalah sebagai pilihan tepat, lebih aman dan lebih mudah menyelesaikan studi. Forum-forum diskusi, debat ilmiah menjadi mati.

Dosen bermental penguasa justru hanya berfungsi untuk mengekang sikap kritis dan korektif mahasiswa. Mereka menumpulkan daya kritis hingga yang terjadi adalah kampus sebagai tempat penindasan intelektual, bukan mencerahkan pikiran intelektual. Di sini para dosen hanya mencantol atas nama lingkungan masyarakat intelektual, tapi posisinya ternyata hanya sebagai parasit, bukan sebagai aset untuk menumbuhkan debat ilmiah menuju masyarakat intelektual.

Padahal, interaksi daosen dan mahasiswa bukan hanya berfungsi hubungan antara yang mengajar dan diajar (hubungan formal), tetapi sebagai mitra debat dalam konteks interaksi pengembangan pengetahuan yang landasan normatifnya rasional dan etika-moral.

Sekiranya interaksi kemitraan ini terjadi, maka akan tercipta power of reason, power of differentiatif (kemampuan memilah yang benar dan salah, baik dan buruk). Semua ini hanya terjadi jika tercipta suasana terbuka dalam debat.

Mengutip pendapat George Wilhelm Friendrick Hegel, bahwa kemajuan intelektual adalah akibat tabrakan dialektis antara pikiran-pikiran yang berlawanan. Perang bukan bapak segala-galanya…, tetapi dalam bidang intelektual debat adalah pendobrak kemandulan.

Pendapat George sungguh menarik jika sekiranya para dosen siap berbeda pendapat dengan materi dan wacana yang lebih cerdas. Jika prasyarat ini dipenuhi, maka atmosfir akademik bukan hanya symbol, tetapi membumi di univesitas. (Harian Fajar, 16 Februari 1998)


Read more...

KAUM MARGINAL

By. M. Ishak Zainal

KITA mungkin jarang menggunakan mata dan pikiran kita mengamati; bagaimana anak-anak telantar terpaksa mencari nafkah.

Di sekeliling kita, bahkan di tengah kehidupan masyarakat ilmiah pun menyodorkan realitas itu. Kita bangga bahkan orgasme bergelut di masyarakat ilmiah, namun kita jarang berpikir tentang mereka, tentang yang terpojok dalam kehidupan marginal sana; sumbangsi apa yang tepat untuk meringankan beban hidup mereka.

Kita hanya sibuk mencari ilmu, terhisap daya magnik keegoan diri sendiri: Bagaimana saya mencari ilmu sebanyak-banyaknya, lalu saya bekerja dan mendapat kedudukan dan status sosial di atas mereka. Kampus tempat bergelut hanya dipandang sebagai bagian mesin dari industri. Kita siap mengabdi untuk industri bukan untuk kemanusiaan.

Kehidupan mereka, kaum marginal bukanlah keinginan mereka untuk masuk dalam wilayah pertarungan hidup yang keras itu. Ada keterpaksaan lantaran karena keegoan para mantan intelektual yang hanya bangga dengan gelar dan ilmunya. Keegoan para ilmuan yang telah mendapat kedudukan yang hanya mementingkan diri dan proyek mereka.

Di balik jeratan hidup di tengah keterpaksaan itu, apakah mereka susah? Mereka telah terbiasa hidup pahit, sehingga kepahitan tak mereka lagi alami yang sangat. Dalam realitas keseharian, mereka juga memiliki senyum, canda bahwa kepuasan yang jarang mungkin kita rasakan. Tidurnya pun nyenyak.
Iya mereka punya senyum, canda namun di balik semua itu, mereka juga punya rasa marah. Mengapa kemarahan mereka tidak mencuat, padahal himpitan hidup telah menderanya?

Mereka itu sabar bukan karena kesabaran hati mereka, tapi sabar keterpaksaan. Mereka sabar, karena mereka belum memahami tentang hak-haknya. Mereka belum mengetahui bahwa mereka itu hanyalah korban eksploitasi dari para intelektual, mereka belum memahami tentang permainan busuk elit potikus. Mereka itu hanyalah efek dari para koruptor-koruptor yang menjarah hak kebahagiaan atas mereka. Semua itu mereka belum paham, kalau pun mereka paham, mereka hanya memendam kemarahannya saja.

Kini, ada baiknya kita membiasakan diri menengok ke bawah, di pinggir-pinggir jalan, di balik hiruk pikuk politik, bahkan harus menenggok di balik ketidaktahuan mereka, sebelum mereka mengatahui siapa sesungguhnya yang menjarah hak-hak mereka itu.

Read more...

HIKMAH

PENGALAMAN adalah kata yang tepat untuk masa lalu. Ia menyimpan banyak kisah. Ada kenangan baik dan buruk. Kalau masa lalu ditempatkan sebagai pengalaman, maka ia merupakan sebagai guru terbaik dari pengajar yang berjiwa diktator. Ia sebagai guru terbaik, karena berlimpah ilmu yang diajarkan. Ajaran yang diberikan kepada kita agar kita lebih cerdas dan lebih bijak menghadapi tahun-tahun ke depan.

Sungguh, pengalaman sangat berharga. Guru begitu mulia. Ilmunya sangat bermanfaat. Ia mengajarkan banyak hikmah, agar kita tidak terlena dan terpuruk dalam keburukan seperti yang telah lalu. Tidak terlena di atas kenikmatan.

Namun, kita yang selalu diajar begitu berotak tumpul dan bebal. Tidak mampu menangkap dan memetik hikmah setiap pesan yang diajarkan. Membiarkan pesan-pesan pahit dan hikmah itu berlalu begitu saja. Kita seperti binatang, setelah mendapat pukulan baru mengikuti perintah atas pesan itu. Akibatnya, kita pun kadang jatuh pada lubang yang sama, serta tersandung batu yang sama. Padahal, peristiwa masa lalu itu telah mengajarkan dan menasihati kita seperti pepatah.” Janganlah seperti keledai selalu jatuh pada lubang yang sama.

Mengapa sebagian diantara kita tidak menjadikan penglaman sebagai cermin? Padahal pengalaman, kita atau pengalaman mereka adalah guru yang terbaik. Untuk melihat diri kita, diri mereka untuk melangkah hari ini dan direfleksikan untuk menatap hari esok. Bukankah itu salah satu tujuan dari pengalaman bahkan kenangan hidup?
Masa lalu kita atau mereka yang tengah berada di sekeliling kita, biarlah menyimpan dukanya. Sesuatu yang buruk dipetik hikmahnya untuk berubah, berubah kearah yang lebih baik.

Lebih bijaknya, masa lalu itu ditempatkan saja pada posisi peringatan dan nasehat. Bukan ditempatkan sebagai trauma yang selalu menghantui kita. Tetapi jadikan ia sebagai titipan ilmu dan nasehat. Kita harus selalu mengambil pelajaran hikmah dari masa lalu dan menatap masa depan dengan selalu optimis dengan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan, agar kita tidak seperti sifat keledai meski kita ini berbentuk manusia. (Januari 1997)

Read more...

SIFAT KEKUASAAN

PASTI Anda tokoh, setidaknya berupaya menokohkan diri. Atau mungkin Anda disibukkan dengan perasaan Anda sebagai tokoh. Dan tentunya, dengan ketokohan itu Anda tidak berharap suatu waktu jatuh di lumpur sejarah kelabu. Sebuah aib bagi perjalanan sejarah hidup Anda sebagai tokoh.

Masalahnya kemudian, dalam sejarah kita telah membaca bahkan manyaksikan runtuhnya tokoh-tokoh lama dan munculnya penguasa baru. Para pemimpin lama turut pula berguguran dalam puing-puing reruntuhan sejarah itu. Yang muncul kemudian adalah sosok-sosok penguasa baru, yang penuh semangat. Mereka berdiri tegar dipenuhi bekas sinisme, gejolak dendam atas kekuasaan Anda masa lalu. Mereka lalu berkata,” Aku bukanlah sosok yang tak tahu penyelewengan masa lalu.”

Kata-kata itu merupakan suatu reaksi dari sekian lama ketertindasan akan ketokohan Anda. Mungkin juga sebagai suatu semangat dendam masa yang terjadi akibat pembungkaman di masa kepemimpinan Anda.

Dalam sejarah, segala ketertindasan dan kepahlawanan itu bukanlah sebagai sebuah peristiwa yang diketahui akhir ceritanya. Ia bisa saja jadi pahlawan di masa akhir hidupnya karena melawan ketertindasan. Ia bisa saja penindas setelah meraih gelar pahlawan atau ketokohan.

Kita saksikan, bagaimana kelompok kaum vokal, misalnya harus belajar membungkuk kepada kekuasaan ketika mereka berada di lingkar kekuasaan. Mereka, yang kini tengah bertahta dulunya adalah tokoh, tokoh mahasiswa, tokoh nasional, tokoh LSM lantas berpaling pada kekuasaan bahkan mungkin menjadi penindas baru. Bahkan mereka lebih cerdas menindas, karena sudah kaya dengan pengalaman perlawanan terhadap kekuasaan.

Tapi biarlah semua berjalan sesuai perputaran roda kekuasaan, toh, anak-anak muda juga tumbuh dengan semangat perlawanannya setiap masa. Biarkanlah sejarah menggelinding dan mencatat para pelakunya, siapa sesungguhnya pahlwan dan siapa penghianat. Karena para tokoh sesunggunya bukanlah bertujuan mengincar kekuasaan atau ingin meraih gelar kepahlawan.Mereka berjuang berlandaskan nuraninya sendiri.

Read more...

UNIVERSITAS BANGKRUT

KEMANA anak-anak muda mahasiswa yang dulu lantang berteriak? Di mana rimba dan dunia mereka kini? Satu demi satu hilang begitu saja. Kami bertanya kepadamu: Apakah almamater peduli terhadap mereka?

Yang tersisa hanya mereka yang sekadar mengejar mahasiswa yang boroientasi yang penting Indeks Prestasi (IP) tinggi. Yang tertinggal dan lanjut ke jenjang berikutnya hanya mereka yang berambisi mengejar posisi dan kedudukan yang sangat “wah” di universitas. Yang tertinggal hanyalah yang patuh di ruang-ruang kelas tanpa memiliki kepedulian dan sikap kritis di lingkungan sekelilingnya.

Mereka yang tertinggal dan mengisi universitas bukan mereka yang berorientasi keilmuan, tapi sekadar mengincar meraih title dan kedudukan. Mereka bukan pengabdi tapi sekadar melaksanakan kewajibannya. Mereka bukan berjiwa pendidikan tapi sekadar pengajar. Mereka yang berjiwa pendidik dan orientasi keilmuan entah raib ke mana?

Mereka para mahasiswa selaku peserta didik tak lagi mengenal wajah-wajah pengajar mereka yang tiba-tiba muncul di depan ruang-ruang kelas. Tidak mengenal sejarah kemahasiswaan mereka, bahkan tak mengenal bagaimana hati nurani mereka.

Peserta didik pun bertanya, meski berbisik karena takut karena ketergantungan nilai. “Siapakah mereka yang mengajar itu? Asal mereka? Di manakah hati nurani mereka? Di manakah sukma dari ilmu dan gelar yang mereka kejar selama ini?
Mereka harus berhadapan dengan pengajar yang hanya menyisakan keluhan yang mengisi jerit ruang-ruang mahasiswa.

Dunia para mahasiswa sunyi, kehilangan dinamika yang konstruktif. Yang muncul dinamika distruktif. Hirup-pikuk dunia idealisme dan semangat mereka berbenturan dengan “tembok-tembok” sosok mengajar yang berjiwa feodalisme, diktator dan para pengajar yang hanya mengejar titel. Yang tersisa hanya pengajar yang mampu mengeluh, malas mengajar dengan alasan gaji kecil. Yang tersisa, mereka yang kurang memiliki kepedulian dan tanggung jawab moral dan komitmen kelilmuan terhadap anak-anak generasi bangsa.

Kita pun kembali didera pertanyaan: Mengapa mereka yang berjiwa feodalisme yang mengisi ruang-ruang kampus? Lalu mengapa ingin menjadi pengjar jika tidak ingin menanggung risiko gaji kecil, mengapa tidak menjadi saja sebagai pengusaha. Lalu mengapa resiko pilihan menjadi pengajar itu ditimpakan kepada mahasiswa sebagai korbannya? Ini sebuah ironi yang perlu diperlu dicari jawabannya di tengah permainan cantik para kolusionisme.

Ini sebuah ironi universitas. Bila “kolusionisme” dan korupsionisme, sudah melanda universitas, lima tahun dan 10 tahun hingga dua puluh tahun ke depan, universitas akan bangkrut. Sebab asset SDM mahasiswa yang potensial satu demi satu pergi, meninggalkan almamaternya. Yang tersisa hanya keluhan yang tercecer di mana-mana dan semangat destruktrif yang saling merusak di bawah, sebagai cerminan rusaknya kepemempinan kolektif di atas mereka.


Read more...

KRITIK

BANYAK orang alergi dengan kritik. Mereka alergi karena metode penyampaian yang keliru. Mereka resah karena mengelak dari kritik yang disodorkan. Mereka marah karena menilai irasional dan melecehkan. Iya, mereka menampik segala kritikan, karena hanya didasari naluri mengharumkan institusinya. Banyak ragam membuat orang marah dan tak senang dikritik.

Meski demikian, kritik itu dapat mewakili suara kepentingan orang banyak. Ia dapat menjadi sarana ekspresi diri. Alat korektif bahkan evaluatif dalam suatu system atau kelompok. Banyak kelemahan untuk diperbaiki dengan kritik baik pribadi maupun lembaga. Melalui kritik, persoalan keruh dapat dijernihkan. Kritik dapat mengingatkan bahkan meluruskan kembali sesuatu yang salah.

Kritik dapat membantu pengawasan meskipun tidak terlembaga secara formal. Jika seorang pemimpin atau lembaga yang terkait dengan kepentingan publik menghindari keterbukaan dan menolak kritik, maka isi kritik perlu dimas dalam bentuk apa saja : lisan, tulisan bahkan bila perlu melalui demontrasi. Kritik dapat menstabilkan system dalam keseimbangan. Menyeimbangkan orang-orang yang hanya memuja dan membiarkan pimpinan terlena dalam pujian.

Maka beruntunglah pimpinan yang senantiasa menjaga orang-orang yang ingin mengeritik. Mereka yang terbuka menerima kritik tanpa kehilangan kreativitas dan kebebasan dalam menentukan sikap. Atau tanpa terjerat dalam sodoran penilaian dan larut dalam kritikan yang disodorkan.

Beruntunglah ia, karena masih ada yang mau peduli dan menjaga baik diri pribadi, obyek yang dikritik maupun amanah tugas yang diemban. Kritik itu hanya ada para orang-orang yang memiliki sikap dan kepedulian. Karena tidak semua orang peduli. Mereka tidak peduli karena menganggap kritik itu adalah wilayah resiko bagi dirinya, terdepak, dibenci bahkan dipecat.

Maka hanya orang yang memiliki kebesaran jiwalah yang terbuka dan rela menerima serta memahami ekspresi kritik. Dan tidak semua orang memiliki kebesaran jiwa termasuk kepada si pengeritik itu sendiri.

Yang dikritik bukanlah sosok malaikat. Ia memiliki sifat marah juga ketersinggungan. Maka si pengeritik perlu memiliki beragam cara mengekspresikan kritikannya. Mengeritik orang dengan berteriak-teriak di depan orang tuli tentu bukanlah cara tepat. Mengerik orang di depan buta sambil menari-nari bukanlah metode jitu. Menyedehkan ayam dengan cara melempari si orang lapar juga tidak tepat. Karena itu, kritik perlu dikemas rapi, dilandasi keihlasan dengan argumentasi rasionalitas. Memahami duduk persoalan secara tepat adalah lebih baik. Kapan, di mana, kepada siapa dan bagaimana kritik disampaikan, sehingga yang dikritik tidak merasa terpojokkan dan si pengeritik tidak terkesan membual atau mengada-ada karena subyektifitas.

Memang, kritik itu dapat membangun meskipun tanpa sodoran solusi. Namun kritik juga dapat meruntuhkan imej yang terbangun. Kritik dapat menjadi alat pembentuk persepsi, meskipun kebenaran kritik itu sendiri masih diragukan. Kritik jika dikabarkan bukan pada tempatnya, akan membentuk persepsi tersendiri terhadap lembaga.

Begitu juga, kritik bagaimanapun kebenarannya sudah dilandasi dengan akal pikiran, namun bila disampaikan dengan mengesampingkan akal budi, maka jauh dari dampak positif meskipun tujuan tercapai. Ia hanya akan menimbulkan benih-benih permusuhan.

Karena itu pula, kritik harus ditempatkan dalam posisi akal disertai budi. Orang bijak berkata, menyampaikan kebenaran itu adalah baik dan menyampaikannya dengan cara yang benar adalah lebih baik,

Karena itu, mengesampingkan marah dan kebencian bagi yang dikritik adalah upaya yang bijak. Sebaliknya, menghindari kepentingan sempit, subyektifitas, bagi yang mengeritik adalah sifat yang ihlas. Tanpa demikian, kritik akan kesucian akal dan budi. (Januari 1998)

Read more...

TRAGEDI 24 APRIL 2006

DI Makassar 24 April 2006 ada kesedihan telah tertoreh, juga menumpahkan kesedihan yang sangat. Kehidupan calon intelektual muda termangu di atas duka.

Di depan ribuan mata, mereka mengusung keranda rekannya korban represif aparat keamanan. Mayat itu imbalan atas perjuangan tuntutan penurunan tarif angkutan kota. Tak pelak lagi, Tasrif, M. Syaiful Bya, A. Sultan Iskandar, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) selaku korban merupakan harga imbalan yang terlampau mahal.

Tentu, kematian tragis itu mengguncang ribuan jiwa mahasiswa Indonesia yang berempati dalam rentetan aksi solidaritas. Mereka menyatu lalu tumpah ke jalan mengabarkan duka yang amat dalam. Mereka membentangkan duka di jalan, menggelar spanduk dan mengumandangkan kesedihan sebagaimana manusia yang berperasaan.

Solidaritas mereka disatukan oleh duka. Duka mereka coretkan di tembok-tembok di jalan-jalan sebagai kecaman kepada mereka yang represif. Mereka marah.

Namun, kepada siapa mereka marah? Kepada siapa mereka mengadu? Bukankah mereka sendiri bingung dengan situasi yang tak jelas kejelasan motif di belakang tragedi itu?

Entah, sebab kemarahan tak selamanya terjawab oleh logika yang tepat maupun argumen yang fasih. Di sana yang bermain adalah perasaan dan jiwa yang mengerti akan kematian yang wajar dan yang tak wajar.

24 April memang hari bersejarah versi mahasiswa. Hari berkabung bagi mereka. Mereka membawa pesan peringatan penguasa, agar penanganan serupa tidak terjadi di negeri ini. Mereka mengabarkan kepada siapa saja, bahwa metode kekerasan tak akan pernah menyelesaikan masalah dengan tuntas, tapi justru akan menambah bobot kerumitan masalah.

Barangkali, hari berkabung itu memiliki hikmah lain, bahwa setiap kasus yang merenggut jiwa manusia mesti dituntaskan, tidak dilupakan apalagi buang muka setelah kesedihan dan kemarahan berakhir. Ia mesti dituntaskan melalui prosedur hukum yang tegas, kebenaran dan rasa keadilan yang menyejukkan, agar menghilangkan nyawa tidak menjadi murah untuk dibeli oleh siapa yang menginginkannya. (Penerbitan Kampus : Identittas 24 April 1997)

Read more...

REPRESIF

CUKUP disayangkan. Sayangnya, kita kadang lupa sejarah dan merenunginya bahwa mengedepankan penanganan senjata, penyerbuan menggunakan panser ke kampus hingga melakukan pembunuhan pada mahasiswa justru akan meningkatkan gelombang aksi

Sayangnya kita lupa pada sejarah, menengok dan merenunginya bahwa di negeri manapun bila segala tuntutan mahasiswa ditangani dengan represif justru akan meningkatkan gelombang aksi.

Sayangnya, kita tidak peka terhadap segala gejala dan keresahan di sekeliling kita. Dan sekali lagi, begitu memilukannya bila aksi kaum muda ditangani represif secara berlebihan. Inilah awalnya ironi suatu bangsa dan duka cita bagi negara.

Tragedi mahasiswa UMI ditengah pemimpin represif ini sungguh teramat sulit diungkip melalui tulisan. Ia hanya bisa digambarkan melakui imajinasi kata-kata. Setidaknya dibalik peristiwa itu, tergambar siapa yang mengorbankan siapa.
***
Mereka para mahasiswa dan mahasiswa di depan kampus mereka, berlari, mengelak, tergeletak bertahan dan mencari ruang perlindungan atas kejaran apara keamanan. Namun seakan tanah mereka tak bertuan lagi karena diserbu para aparat militer yang selama ini dianggap sebagai alat pengayom atau sebagai benteng perlindungan terhadap kebrutalan.

Maka, ada yang ditangkap ada yang menangkap. Ada poporan senjata dan ada yang dipopor. Ada yang terluka dan ada yang melukai. Ada gas air mata dan ada air mata pilu yang bercucuran. Ada yang mengejar dan ada yang mengejar.

Maka, ada yang terdesak dan ada yang mendesak, ada melompat terjun ke sungai dan ada yang diterjungkan ke sungai. Ada yang terpaksa dan ada yang memaksa. Ada yang selamat dan ada yang tak terselamatkan. Ada yang aman dan ada yang diamankan. Ada yang muncul dari sungai dan ada yang dimunculkan. Ada yang hilang dan ada yang dihilangkan. Ada yang tenggelam dan ada yang ditenggelamkan.

Maka ada yang mengapung dan ada yang diapungkan. Ada yang ada dan ada yang mengadakan. Ada yang dikomentari dan ada yang mengomentari. Ada yang ada dan ada yang selalu mengada-ada.

Ada yang meninggal dan ada yang ditinggalkan. Ada mayat dan ada yang diusung. Ada duka dan ada yang mendukai. Ada tangis dan ada yang ditangisi.

Maka, mahasiswa sedih, mahasiswa terluka, mahasiswa berduka, mahasiswa marah. Mereka merasa kehilangan rekan pemilik masa depan bangsanya. Solidaritas aksi berkibar, menyesalkan, mengecam dan mengutuk perlakuan mahasiswa yang tak manusiawi. Mahasiswa berang campur sedih. Mereka sedih tapi marah. Kemarahan mahasiswa bukan lagi tuntutan penurunan biaya tariff angkot, tapi penanganan aparat negara yang represif. Mereka mahasiswa mengutuk segala bentuk kekerasan.

Mahasiswa turun jalan, menggelar aksi duka, mengenang aksi luka. Kesedihan, kepiluan dan kemarahan seakan menyatukan dan mengingatkan romantisme aksi pergerakan kemahasiswaan. Mereka mengibarkan bendera yang sekian lama kusut. Bendera aksi solidaritas sesama mahasiswa. Mereka tak lagi dibatasi tembok-tembok atas nama universitas.

Mereka menantang garang, walau senjata perlawanan mereka adalah semangat, semangat menentang kekerasan dengan cara mereka sendiri. Mereka seakan tak peduli lagi siapa korbannya, apa akibatnya, siapa pelakunya. Mereka hanya mengecam segala bentuk kekerasan dengan cara mereka sendiri. (Penerbitan Kampus Unhas : Identitas April 1996)

Read more...

PELACUR DAN ILMUAN

By. Ishak Zainal

APA persamaan antara pelacur dan ilmuan? Ketika kita mengajukan pertanyaan ini kepada pelacur, tentu pelacur akan bangga, karena status sosialnya terangkat. Namun, bila kita menyodorkannya kepada ilmuan, tentu ilmuan tersinggung, karena seakan menyamakan antara ilmuan dengan pelacur.

Tapi ada ilmuan yang memiliki jawaban nakal. Dia adalah Stepen Willian Hawking. Seorang ilmuan besar di bumi ini. Ia malah mengatakan bahwa ilmuan dan pelacur itu sama. Mereka dibayar untuk sesuatu yang mereka nikmati.

Ilmuan–dan pelacur memang bekerja untuk sesuatu yang mereka nikmati. Seperti halnya juga dengan pelacur, seorang ilmuan kerap juga didorong nafsu mereka. Nafsu para ilmuan adalah nafsu ingin tahu dan ingin mengguasai metode dan memahami lingkup permasalahan secara detail dan lengkap.

Mereka : pelacur dan ilmuan malah bisa disamakan meski profesi berbeda. Mereka memiliki rasa ketagihan. Para pelacur tak mudah menghentikan jalan hidupnya lantaran telanjur merasakan kenikmatan yang sangat. Ilmuan pun tak pernah berhenti bertualan mencari ilmu.

Mereka yang memilih jalan sebagai pelacur adalah jalan hina untuk dirinya sekalipun dengan dalih keterpaksaan. Mereka para pelacur mungkin hanya mencemari satu atau sekelompok orang saja untuk merasakan kenikmatan yang haram.

Mereka yang menempuh jalan ilmuan adalah jalan mulia dan halal. Jalan itu mulia karena dengan ilmunya. Ia dapat mencerahkan kehidupan masyarakat sekaligus ilmuan mendapat materi yang wah dan halal. Sungguh jutaan manusia berharap dari ilmua agar mereka tercerahkan atas hasil pemikiran-pemikiran ilmuan. Sungguh ilmuan adalah mahluk istimewa.

Syukurlah, melihat silmbol-simbol gelar, secara kuantitas ilmuan kita semakin bertambah bahkan mungkin berbanding dengan pertumbuhan para pelacur. Alhamdulillah, dari segi simbolisasi, ilmuan kita banyak. Ini berarti masyarakat akan semakin tercerah.

Pertambahan ini juga karena simbol-simbol gelar keilmuan dengan mudahnya begitu diperoleh di lembaga pendidikan yang hanya berorientasi profit. Dengan uang segompok simbol keilmuan pun bisa diraih.

Tapi apakah ilmuan kita itu juga seorang yang menjaga nilai-nilai integritasnya sebagai pondasi bagi seorang ilmuan? Seorang yang bukan saja kaya atas pengetahuan tetapi memiliki integritas, mampu memilah baik dan buruk, benar atau salah. Seorang yang tak hanya menggunakan ilmunya untuk merekonstruksi suatu permasalahan, tetapi juga mempersoalkan dampak sosial hasil-hasil penelitian ilmiah dan keputusan politik.

Apakah ilmuan kita memiliki integritas? Tak mudah menjawab pertanyaan itu. Bila ilmuan kita tidak memiliki integritas, berarti ilmuan kita hanya akan melacurkan dirinya yang bertentangan kemaslahatan umat. Mereka bekerja dan menikmati pekerjaannya karena sekadar meligitimasi pesan-pesan proyek penguasa yang berkolusi dengan pengusaha. Mereka sekadar menjadi legitimasi pembenaran terhadap langkah-langkah penguasa/

Kalau ilmuan kita hanya berfungsi memberikan legitimasi pembenaran saja pada proyek-proyek yang kontrakditif dengan kemaslahatan umat, maka tentu Hawkin benar: Apa bedanya antara ilmuan dan pelacur. (Identitas 27 September 2001)

Read more...

SHALAT UNTUK APA?

ADA berbagai kekeliruan persepsi yang berkembang di tengah masyarakat. Ini terkait soal ibadah. Orang yang shalat seakan-akan dihubung-hubungkan dengan ukuran materi. Mereka berniat salat, tetapi sesungguhnya mereka itu hanya mengincar materi.
Ungkapan yang sangat miris misalnya, engkau setengah mati shalat sementara engkau tidak kaya-kaya. Persepsi ini sesungguhnya persepsi sangat keliru lagi sesat. Bayangkan saja shalat itu diukur melalui tingkat material. Lebih kelirunya lagi, banyak orang kaya juga tidak shalat-shalat.
Inilah yang berkembang di tengah materialis dan hedonisme masyarakat modern sekarang ini. Ibadah pun diukur dengan materi, segalanya diukur melalui materi. Bahkan ironisnya lagi, ulama, khiyai juga diukur dari segi materi, makin kaya seorang kiyai, maka makin tinggi tingkatan statusnya di tengah masyarakat.
Padahal, jika dirunut sebenarnya hubungan ibadah itu berhubungan dengan peningkatan tingkat spiritual seseorang. Seseorang shalat misalnya sesungguhnya adalah untuk berhubungan dengan khalid-Nya. Bagaimana mereka itu dekat dengan penciptanya, bagaimana mereka berdialog dan bercengkerama dengan tuhan sang pencipta. Bukankah tuhan itu juga maha berkata-kata?.
Cara pandang kita seperti ini sesungguhnya yang menyelimuti pikiran-pikiran masyarakat awam. Shalat itu berkaitan dengan ketuhanan. Jika mereka itu salat untuk mendapatkan materi, sesungguhnya sangat keliru. Untuk kaya mereka harus berusaha terutama memasuki bisnis. Karena mereka itu memiliki jalur dan jalan masing-masing. Jalur untuk peningkatan material tak lain adalah melalui jalan bisnis. Masing-masing manusia diberi kebebasan jalur untuk menentukan pilihan hidupnya. Peningkatan material atau peningkatan spiritual. Jadi tidak dibolak balik fungsi dan tujuannya. Jika sekiranya mereka dengan ihlas beribadah, lantas urusan dan reskinya lancar, maka itu adalah effek dari keihlasan beribadah.
Begitu halnya, memandang kyai atau ulama itu harus melihat dari segi tingkat spritualnya, bukan berdasarkan materi. Maka tidaklah salah. Jika memandang dari segi material dikaitkan dengan kesucian, tentu ulama jauh lebih suci dari manusia yang menempuh jalan spiritual, sebab lebih banyak yang kaya dari ulama itu sendiri.
Jalan spiritual adalah maqam-maqam menuju tuhannya. Mereka itu ulama sebagai pembimbing spiritual bagi sekelilingnya, sementara pemimpin itu para pelayannya.
Kyai sesungguhnya juga bisa kaya bahkan lebih kaya dari orang kaya, bila mereka itu meminta kepada Allah. Namun, tujuan mereka sebenarnya bukanlah dunia yang sementara ini, tetapi tujuan mereka itu semata-mata ridho dari Allah. Banyak ulama-ulama hikmah bisa membuktikan hal tersebut, sebab mereka bukan lagi tergantung pada dunia, tetapi dunia telah bergantung padanya.(Bulukumba 27 Juli 07).


Read more...

HARAP-HARAP CEMAS

By, M. Ishak Zainal

MANUSIA harus memiliki harapan. Harapan positif di depannya. Manusia tanpa harapan bagaikan senter dengan baterei tanpa energi. Ia ada tapi tak berfungsi sebagai sinar sebagai sasaran cahaya di depannya. Harapan kontrakditif dengan putus asa. Putus asa sama dengan putus harapan. Apapun disampaikan kepadanya, tiada bermakna sama sekali, karena mereka itu sendiri sudah kehilangan energi.
Harapan yang berlebihan, atau sesuatu yang muluk-muluk tanpa disertai dengan upaya, maka ia hanyalah sebentuk sebuah khayalan. Di antara kita mungkin banyak yang telah dilanda penyakit khayalan. Seakan-akan kita sudah berkhayal masuk surga tanpa perlu beribadah. Seakan-akan mendekati sang khalik itu tanpa perlu beramal.
Harapan harus disertai keinginan kuat serta upaya maksimal. Selalu berharap ridho Allah. Karena itu pula, harapan harus disertai selalu rasa cemas. Cemas tentang ibadah-ibadah penyembahan kita apakah diterima atau tidak.
Cemas berlebihan apalagi tanpa harapan juga salah. Karena itu harus berada dalam perimbangan antara harapan dan cemas. Kita bisa saja bangga bahkan menyombongkan diri bahwa kitalah yang paling beriman, lalu mengkafirkan orang lain. Namun kita juga harus cemas, bahwa semua itu bisa terbalik dalam sekejap, bahwa kita bisa berada di bawah tingkat serendah-rendahnya, dan orang yang kita hujat terangkat derajatnya.
Bukankah kaum sufistik mengingatkan bahwa dosa yang membuatmu selalu merasa takut kepada Allah dibanding amalan yang membuatmu sombong, angkuh?


Read more...

ILMU DAN AMAL

By. M. Ishak Zainal

BERIBADAHLAH engkau sepanjang engkau mampu. Jika ilmu engkau sudah cukup meskipun sedikit, lakonilah apa yang engkau ketahui. Lakonilah dengan sabar, sebab tanpa lakon, maka sesungguhnya ilmu itu hanyalah sebatas ilmu yang melekat di kepala saja. Ia hanya ibarat bolan di tengah kepala namun tidak memiliki penerangan.
Bila engkau melakoni yang telah engkau ketahui dengan konsisten, maka kelak engkau akan diperlihatkan sebuah ilmu yang tak engkau ketahui sebelumnya. Bahkan rahasia-rahasia yang tak diberikan kepada manusia sejawatnya.
Itulah sebabnya, mengapa ilmu dan amal atau amal dan ilmu itu harus selalu berbarengan. Ilmu yang diperoleh harus disertai dengan amal. Amal atau amalan yang dilakonkan juga harus diserta dengan ilmu. Keduanya harus menyatu dan utuh.
Banyak yang berilmu, pandai berkata-kata namun sesungguhnya mereka tidak melakukan apa yang mereka sampaikan itu. Mereka sudah menganggap bahwa ilmu sudah cukup bagi mereka. Bahwa dengan ilmu mereka itu mereka sudah selamat. Padahal ilmu itu sendiri belumlah dikatakan ilmu secara utuh tanpa diterapkan, meskipun semua yang diketahui tak harus dilakonkan.
Begitu sebaliknya, apa yang dilakonkan juga harus diketahui, meskipun yang dilakonkan itu sedikit namun konsisten. Yang dilakonkan harus diketahui secara mendalam, misalnya tentang shalat, atau zikir itu sendiri. Lebih mendalam pengetahuan tentang hakikat itu, tentu akan lebih bermakna ibadah kita. Sedikit tapi mendalam itu lebih bagus daripada banyak tapi ngelantur. (Makassar, 2007)


Read more...

RUMAH

By. M. Ishak Zainal

BETAPA banyak orang yang memperindah rumahnya. Menata halaman-halamannya, semua itu dilakukan agar indah dipandang mata, mendapat pujian dari tetangga dan setiap orang yang menatapnya terkagum-kagum, hingga menimbulkan kesombongan pada si penghuni rumah.
Setiap hari, mereka bekerja membanting tulang, tak kenal siang, tak kenal malam, tak kenal lelah, tak kenal panas maupun hujan semata-mata demi mempercantik rumahnya, agar mendapat sekali lagi pujian. Padahal, rumah itu hanyalah rumah kontrakan, yang memiliki masa waktu.
Apa sesungguhnya yang mereka cari dan apa sesungguhnya tujuan mereka?
Mereka melupakan suara-suara pemilik rumah. Mereka lupa memberi makan kepada si pemilik rumah sesungguhnya, yang setiap waktu juga butuh makanan, sebagaimana halaman rumah citata dan dipercantik.
Padahal pemilik rumah itu juga berbisik, menghiba; berikan juga kami makanan, perindah juga saya, bekali juga saya dengan “deposito”, dengan tabungan, agar kelak saya juga dapat memiliki dan memperindah tempat terakhir saya, setelah masa kontrak habis.
Mereka memperindah di luar, tetapi melupakan yang di dalam. Mereka memberi makan setiap saat di luar, tetapi mereka lupa memberi makan di dalam. Padahal, sesungguhnya bila rumah itu telah hancur ditimpa badai, atau masa kontrakan berakhir, maka yang tersisa hanyalah penghuni rumah.
Jika tiba masa perjanjian antara si pemilik rumah dengan si penciptanya, maka kemana lagi penghuni rumah tinggal. Mereka menjadi fakir, miskin, telantar, dan ikut menyesali diri. Mereka tak memiliki lagi rumah, karena mereka melupakan mempersiapkan penghuni rumah, mereka rindu kembali pulang untuk menyiapkan bekal di kehidupan berikutnya.
(Mks/2/03/07)

Read more...

TUBUH DAN BATIN

By. M. Ishak Zainal

BATIN itu harus terbungkus. Jika ia hanya sekadar batin saja, dan tidak ada pembungkusnya maka tidaklah lengkap dia disebut sebagai manusia. Sementara tubuh itu sendiri adalah pakaian. Pakaian yang dipakai oleh batin kita.
Begitu juga ketika dia hanya sebagai pembungkus tanpa memiliki isi, maka dia hanya terlihat sebagai pembungkus saja. Batin berjalan tetap batin, dan tubuh pembungkus tetap sebagai pembungkus.
Lalu siapa yang harus bertanggungjawab di hadapan tuhan, sementara tubuh itu hanya sebagai sebuah rumah. Penghuni dari rumah itu adalah batin itu sendiri. Batin itu hanya mengontrak pada sebuah rumah.
Penghuni rumah itu sendiri adalah batin itu sendiri. Namun di dalam rumah itu tentu saja banyak penghuni lainnya. Bagaimana nampaknya sebuah rumah tanpa penghuni. Bagaimana pandangan kita terhadap sebuah rumah jika dihuni oleh para hantu. Alangkah indahnya rumah itu bila rumah itu dihuni oleh para malaikat.
Rumah bisa saja dihuni oleh malaikat, bisa juga dihuni oleh rumah berhantu, yang begitu menakutkan. Bisa juga oleh binatang-binatang melata. Di depan mungkin nampak indah dipandang, tetapi sesungguhnya di dalam rumah itu sendiri terdiri dari penghuni-penghuni yang paling menakutkan. Sementara penghuni rumah asli itu sendiri tak memiliki kuasa apa-apa terhadap penghuni lainnya. Mereka mungkin terbaring sakit di tempat tidur atau malah pergi meninggalkan rumahnya.
Di sini kemudian muncul pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab, sementara tubuh itu hanya sebagai pelindung dari batin. Siapa yang akan menghadap dan mempertangungjawabkan semua perbuatan yang dilakukan oleh penghuni rumah itu. Tubuh-tubuh yang melekat pada manusia itu sesungguhnya hanyalah sebagai sebuah saksi dari perbuatan si pemilik rumah. Bukankah yang akan bungkam suatu waktu ketika kita ditanya mulut kita terkunci rapat. Kefasihan lidah tak lagi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan para malaikat. Tangan, kaki dan tubuh lainnya akan bersaksi bahkan berucap menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh batin sebelumnya. Ketika mulut mereka dibungkam. Demikian Al quran menjelaskan tentang kesaksian itu. (Bulukumba, 27 Juli 07)



Read more...

KEMUNAFIKAN KITA

By. M. Ishak Zainal

KITA ini kadang munafik pada diri kita sendiri. Kita berani berbohong kepada yang mengetahui sumber-sumber kebohongan dan kemunafikan itu. Lain di mulut lain pula di hati, bahkan lain di pikiran. Kita tidak konsisten dengan kalimat-kalimat yang meluncur dari lidah kita.
Amatilah diri kita, ketika kita menghadap raja diraja, sembahan manusia. Ketika kita mengangkat takbir, kita mengucapkan kebesaran Allah, lalu kita berkomitmen bahwa hidup dan matiku kupersembahkan untuk-Mu wahai Tuhanku, sementara pikiran kita melayang-layang, hati kita bahkan tidak seiring dengan kemauannya.
Lidah, pikiran dan hati tidak menyatu. Tri In One, tiga untuk satu dan satu untuk tiga tidak seiring dan sejalan dan tidak menyatu. Betapa munafiknya kita. Apalagi ketika takbiran itu kita angkat lalu memunculkan rasa ujud kepada para manusia, maka makin munafiklah kita. Kita berkata hidup dan matiku kupersembahkan untuk tuhan, tetapi ternyata dipersembahkan kepada manusia yang ingin agar kita dipuji.
Andaikan kita adalah raja, dan hamba sahaya menghadap kita lalu dia berbicara fasih, namun kita tahu bagaimana pikirannya melayang-layang dan hatinya lalai, tentu sebagai raja akan marah. Tentu akan berkata lantang, perkataanmu itu ada benarnya, tapi pikiranmu ngelantur dan hatimu tidak tulus. Kamu hanya bermain-main dalam kata-kata, tapi hatimu tidak kau persembahkan, pikiranmu tidak kau fokuskan.
Untunglah Tuhan itu bukan manusia, Dia maha mengetahui kelemahan manusia. Karena itu, beruntunglah mereka yang mengetahui dan memahami dirinya dan mengetahui Tuhan yang mereka sembah. Beruntunglah mereka yang mempergunakan sebagian waktunya untuk berma’rifat kepada Allah. Bukankan dengan mengenal tuhannya maka dia akan mencintainya. Bukankah dengan mencintainya, maka dia akan tulus dan ihlas beribadah.
Inilah sebagian dari kita. Kita hanya melihat segala sesuatu dalam bentuk kewajiban. Yang penting kewajiban terlaksana. Kita lupa tentang ketulusan dan keihlasan hati kita, padahal sumber dari semua itu ada pada hati kita. (Makassar, 16 Mei 2007)

Read more...

PERTARUNGAN TIADA HENTI

By. M. Ishak Zainal

INGATLAH bahwa setiap saat engkau bertarung dengan nafsumu, bisikan setan, pengaruh negatif manusia. Dirimu sesungguhnya fitra, suci dan berasal dari tempat suci, karena itulah berusahalah selalu berada pada posisi suci, sehingga usahamu itu mendekatkan dirimu pada sumber kesucian. Dan sesungguhnya kesucian itu akan tetap kembali ke tempat sucinya. Sementara perbuatanmu yang buruk, engkau akan pertanggung jawabkan dan menanggung akibatnya.
Perhatikanlah setiap saat qalbumu, apakah qalbumu tetap berada di atas posisi mutmainnah, ridho, atau sudah direbut oleh nafsu, dikendalikan setan, sebab pertarungan itu setiap detik berlangsung. Jangan lengah, jangan lengah dan jangan sekali-kali lengah. Sebab nafsu itu tidak pernah lengah, setan tak pernah lelah untuk merebut posisi qalbu itu. Qalbu itu adalah sebuah raja pengendali dirimu. Bila qalbu itu dikuasai oleh nafsu, setan, maka engkau sesungguhnya dikendalikan laknatullah itu.
Bersyukurlah engkau bila telah berada di posisi keimanan, kesucian, sebab pada saat di posisi itu engkau berada berarti engkau ditolong oleh Allah. Keimanan itu juga sesungguhnya bukan semata-mata dari hasil usahamu, tetap dari Nur Ilahi. Ini juga menyiratkan, jangan engkau merasa angkuh dan merasa bersih, suci, di atas mahluk Allah, jangan engkau menghina, menghujat mereka yang melupakan diri dan asal mereka, tetapi jika engkau melihatnya berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Doakanlah mereka agar mereka sadar, nasihatilah mereka secara baik-baik, sebab petunjuk dan rahmat itu hak proregatif Allah. Kita tidak punyak hak untuk memaksakan mereka beriman atau tidak beriman. Lalu cankamlah, bahwa orang yang melakukan perbuatan buruk dan menyadari dirinya buruk, itu lebih baik daripada orang yang mengaku beriman yang justru menimbulkan sikap angkuh. (Makassar, 5 Maret 07)

Read more...

About This Blog

Pengikut

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP