KEKAYAAN KITA ADALAH TRAGEDI
KITA mesti mengukir tragedi apa lagi? Kita sudah kaya dengan rentetan fakta miris. Berulang kali rentetan konflik menodai peta wilayah kita. Jakarta, Pinrang, Makassar, Ambon, Sambas, Aceh dan banyak lagi daerah lainnya, dengan peristiwa kerusuhan yang susul menyusul.
Kerusuhan demi kerusuhan mengukir perjalanan para pengelola anak bangsa yang seakan sudah tak punya malu lagi. Dan ternyata di balik kerusuhan ini secara sadar maupun tak sadar diinginkan oleh para politisi, pengusaha dan penguasa. Lidah lentur mereka mencokoki pikiran dan membentuk persepsi rakyat, bahwa akan terjadi kerusuhan, media massa ramai-ramai mengutip pernyataannya. Kerusuhan pun siap dipicu, lalu meledak. Pikiran toh mempengaruhi tindakan.
Peristiwa yang terjadi ibarat tontonan film menarik. Setelah peristiwa berdarah berlalu, ada perasaan wah: Sukses membuat tragedi miris di bawah kepimpinan Beliau. Kepemimpinan Beliau itu memang tak becus. Beliau itu harus diturunkan.
Yang lainnya hanya diam atau seakan tak mengambil andil dalam kerusuhan berdarah itu. Mereka ramai-ramai membuat komentar, pernyataan keprihatinan.
Sayangnya, akhir peristiwa itu seakan hanya dikenang begitu saja. Penelusuran jekaknya terhapus. Siapa di balik kerusuhan itu tak diusut. Pelaku dan dalang di balik semua peristiwa itu ngadat di meja-meja hingga dianggap kasus itu telah terlupakan. Inilah sifat buruk para anak bangsa kita.
Apa yang tersisa dari kerusuhan? Anak-anak yatim piatu tiba-tiba bermunculan. Orang tua kehilangan anak, istri kehilangan suami dan warga kehilangan tempat tinggal. Mereka para pemimpin di negeri ini seakan tak menghargai nyawa manusia.
Rasa aman semakin sempit saja, ketika hukum, keadilan dan kebenaran diperuntukkan hanya orang-orang yang tak berdaya saja. Mereka yang memiliki kedudukan dan posisi yang kuat tak tersentuh hukum. Karena hukum seperti karet lentur diperuntukkan sesuai keinginan para penguasa. Karena hukum di negeri ini ditakar dengan uang seberapa banyak uangmu. Mereka yang tak berdaya, hanyalah calon-calon korban berikutnya di bawah penguasa yang tak memiliki hati nurani, tak memiliki integritas dan tanggung jawab moral kebangsaan.
Kita hari-hari belakangan ini memang seakan berada di rimba yang dipenuhi hewan buas. Bagai hidup menghadapi harimau-harimau lapar yang siap mencari mangsa yang tak berdaya. Hukum kita adalah hukum rimba. Siapa yang kuat dia bertahan. Siapa yang lemah menjadi santapan. Mereka yang diberi kewenangan kekuasaan dan kekuataan senjata tak jelas diperuntukkan untuk apa.
Toh tak selamanya hukum di tangan mereka. Rakyat juga memiliki hukum. Hukum rakyat juga tak mengenal aturan hukum. Mereka juga kelak tak mengenal siapa korbannya dan siapa penggeraknya. Yang mereka tahu, siapa yang berkuasa dialah yang harus bertanggungjawab terhadap hukum yang lemah saat ini.
0 komentar:
Posting Komentar