ATMOSFIR AKADEMIK HANYA SIMBOL
Dambaan para petinggi kampus ini sebenarnya bukan hal-hal baru. Jauh sebelumnya, harapan mahasiswa sebelum masuk ke perguruan tinggi ingin menikmati bagaimana menimba ilmu sebanyak-banyaknya, hingga menjadi seorang intelektual - rasional yang berbudi.
Namun harapannya hanya berujung kekecewaan. Di realitas masyarakat ilmiah, mereka dibenturkan sebuah realitas staf para pengajar yang bermental penguasa, merasa benar dan ingin menang sendiri. Lebih-lebih lagi para pengajarnya hanya mengajar dengan metode peluru. Tidak ada dialog timbal balik antara dosen dengan mahasiswa. Dosen memperhadapkan ketumpulan intelektualnya dengan mengedepankan ancaman dan kewenangan pemberian nilai.
Para dosen adalah penguasa. Ia memiliki kekuatan apa saja untuk menggantung nilai mahasiswa. Dosen bagai dewa. Mereka mahasiswa yang kritis dan korektif terhadap materi serta metodenya dicap sebagai mahasiswa tidak etis, tidak sopan.
Interaksi pun menjadi ruwet. Suasana akademik menjadi sumpek. Akhirnya sikap memilih diam di kalanangan mahasiswa adalah sebagai pilihan tepat, lebih aman dan lebih mudah menyelesaikan studi. Forum-forum diskusi, debat ilmiah menjadi mati.
Dosen bermental penguasa justru hanya berfungsi untuk mengekang sikap kritis dan korektif mahasiswa. Mereka menumpulkan daya kritis hingga yang terjadi adalah kampus sebagai tempat penindasan intelektual, bukan mencerahkan pikiran intelektual. Di sini para dosen hanya mencantol atas nama lingkungan masyarakat intelektual, tapi posisinya ternyata hanya sebagai parasit, bukan sebagai aset untuk menumbuhkan debat ilmiah menuju masyarakat intelektual.
Padahal, interaksi daosen dan mahasiswa bukan hanya berfungsi hubungan antara yang mengajar dan diajar (hubungan formal), tetapi sebagai mitra debat dalam konteks interaksi pengembangan pengetahuan yang landasan normatifnya rasional dan etika-moral.
Sekiranya interaksi kemitraan ini terjadi, maka akan tercipta power of reason, power of differentiatif (kemampuan memilah yang benar dan salah, baik dan buruk). Semua ini hanya terjadi jika tercipta suasana terbuka dalam debat.
Mengutip pendapat George Wilhelm Friendrick Hegel, bahwa kemajuan intelektual adalah akibat tabrakan dialektis antara pikiran-pikiran yang berlawanan. Perang bukan bapak segala-galanya…, tetapi dalam bidang intelektual debat adalah pendobrak kemandulan.
Pendapat George sungguh menarik jika sekiranya para dosen siap berbeda pendapat dengan materi dan wacana yang lebih cerdas. Jika prasyarat ini dipenuhi, maka atmosfir akademik bukan hanya symbol, tetapi membumi di univesitas. (Harian Fajar, 16 Februari 1998)
0 komentar:
Posting Komentar