ILMU DAN AMAL
BERIBADAHLAH engkau sepanjang engkau mampu. Jika ilmu engkau sudah cukup meskipun sedikit, lakonilah apa yang engkau ketahui. Lakonilah dengan sabar, sebab tanpa lakon, maka sesungguhnya ilmu itu hanyalah sebatas ilmu yang melekat di kepala saja. Ia hanya ibarat bolan di tengah kepala namun tidak memiliki penerangan.
Bila engkau melakoni yang telah engkau ketahui dengan konsisten, maka kelak engkau akan diperlihatkan sebuah ilmu yang tak engkau ketahui sebelumnya. Bahkan rahasia-rahasia yang tak diberikan kepada manusia sejawatnya.
Itulah sebabnya, mengapa ilmu dan amal atau amal dan ilmu itu harus selalu berbarengan. Ilmu yang diperoleh harus disertai dengan amal. Amal atau amalan yang dilakonkan juga harus diserta dengan ilmu. Keduanya harus menyatu dan utuh.
Banyak yang berilmu, pandai berkata-kata namun sesungguhnya mereka tidak melakukan apa yang mereka sampaikan itu. Mereka sudah menganggap bahwa ilmu sudah cukup bagi mereka. Bahwa dengan ilmu mereka itu mereka sudah selamat. Padahal ilmu itu sendiri belumlah dikatakan ilmu secara utuh tanpa diterapkan, meskipun semua yang diketahui tak harus dilakonkan.
Begitu sebaliknya, apa yang dilakonkan juga harus diketahui, meskipun yang dilakonkan itu sedikit namun konsisten. Yang dilakonkan harus diketahui secara mendalam, misalnya tentang shalat, atau zikir itu sendiri. Lebih mendalam pengetahuan tentang hakikat itu, tentu akan lebih bermakna ibadah kita. Sedikit tapi mendalam itu lebih bagus daripada banyak tapi ngelantur. (Makassar, 2007)
0 komentar:
Posting Komentar