HARAP-HARAP CEMAS
MANUSIA harus memiliki harapan. Harapan positif di depannya. Manusia tanpa harapan bagaikan senter dengan baterei tanpa energi. Ia ada tapi tak berfungsi sebagai sinar sebagai sasaran cahaya di depannya. Harapan kontrakditif dengan putus asa. Putus asa sama dengan putus harapan. Apapun disampaikan kepadanya, tiada bermakna sama sekali, karena mereka itu sendiri sudah kehilangan energi.
Harapan yang berlebihan, atau sesuatu yang muluk-muluk tanpa disertai dengan upaya, maka ia hanyalah sebentuk sebuah khayalan. Di antara kita mungkin banyak yang telah dilanda penyakit khayalan. Seakan-akan kita sudah berkhayal masuk surga tanpa perlu beribadah. Seakan-akan mendekati sang khalik itu tanpa perlu beramal.
Harapan harus disertai keinginan kuat serta upaya maksimal. Selalu berharap ridho Allah. Karena itu pula, harapan harus disertai selalu rasa cemas. Cemas tentang ibadah-ibadah penyembahan kita apakah diterima atau tidak.
Cemas berlebihan apalagi tanpa harapan juga salah. Karena itu harus berada dalam perimbangan antara harapan dan cemas. Kita bisa saja bangga bahkan menyombongkan diri bahwa kitalah yang paling beriman, lalu mengkafirkan orang lain. Namun kita juga harus cemas, bahwa semua itu bisa terbalik dalam sekejap, bahwa kita bisa berada di bawah tingkat serendah-rendahnya, dan orang yang kita hujat terangkat derajatnya.
Bukankah kaum sufistik mengingatkan bahwa dosa yang membuatmu selalu merasa takut kepada Allah dibanding amalan yang membuatmu sombong, angkuh?
0 komentar:
Posting Komentar