SHALAT UNTUK APA?
Ungkapan yang sangat miris misalnya, engkau setengah mati shalat sementara engkau tidak kaya-kaya. Persepsi ini sesungguhnya persepsi sangat keliru lagi sesat. Bayangkan saja shalat itu diukur melalui tingkat material. Lebih kelirunya lagi, banyak orang kaya juga tidak shalat-shalat.
Inilah yang berkembang di tengah materialis dan hedonisme masyarakat modern sekarang ini. Ibadah pun diukur dengan materi, segalanya diukur melalui materi. Bahkan ironisnya lagi, ulama, khiyai juga diukur dari segi materi, makin kaya seorang kiyai, maka makin tinggi tingkatan statusnya di tengah masyarakat.
Padahal, jika dirunut sebenarnya hubungan ibadah itu berhubungan dengan peningkatan tingkat spiritual seseorang. Seseorang shalat misalnya sesungguhnya adalah untuk berhubungan dengan khalid-Nya. Bagaimana mereka itu dekat dengan penciptanya, bagaimana mereka berdialog dan bercengkerama dengan tuhan sang pencipta. Bukankah tuhan itu juga maha berkata-kata?.
Cara pandang kita seperti ini sesungguhnya yang menyelimuti pikiran-pikiran masyarakat awam. Shalat itu berkaitan dengan ketuhanan. Jika mereka itu salat untuk mendapatkan materi, sesungguhnya sangat keliru. Untuk kaya mereka harus berusaha terutama memasuki bisnis. Karena mereka itu memiliki jalur dan jalan masing-masing. Jalur untuk peningkatan material tak lain adalah melalui jalan bisnis. Masing-masing manusia diberi kebebasan jalur untuk menentukan pilihan hidupnya. Peningkatan material atau peningkatan spiritual. Jadi tidak dibolak balik fungsi dan tujuannya. Jika sekiranya mereka dengan ihlas beribadah, lantas urusan dan reskinya lancar, maka itu adalah effek dari keihlasan beribadah.
Begitu halnya, memandang kyai atau ulama itu harus melihat dari segi tingkat spritualnya, bukan berdasarkan materi. Maka tidaklah salah. Jika memandang dari segi material dikaitkan dengan kesucian, tentu ulama jauh lebih suci dari manusia yang menempuh jalan spiritual, sebab lebih banyak yang kaya dari ulama itu sendiri.
Jalan spiritual adalah maqam-maqam menuju tuhannya. Mereka itu ulama sebagai pembimbing spiritual bagi sekelilingnya, sementara pemimpin itu para pelayannya.
Kyai sesungguhnya juga bisa kaya bahkan lebih kaya dari orang kaya, bila mereka itu meminta kepada Allah. Namun, tujuan mereka sebenarnya bukanlah dunia yang sementara ini, tetapi tujuan mereka itu semata-mata ridho dari Allah. Banyak ulama-ulama hikmah bisa membuktikan hal tersebut, sebab mereka bukan lagi tergantung pada dunia, tetapi dunia telah bergantung padanya.(Bulukumba 27 Juli 07).
0 komentar:
Posting Komentar