REKRUITMEN DOSEN
By. M. Ishak Zainal
REKRUTMEN dosen adalah petunjuk. Di sana sumber petunjuk untuk melihat bagian wajah almamater apakah berkualitas atau penuh borok.
Di rekruitmen sana mencerminkan, adakah mereka yang memenuhi lembaga itu cenderung kepada mereka yang menjunjung ilmu sebagai akademisi, atau lembaga sana hanya persekongkolan pemburu titel, perselingkuhan antara pencari posisi dengan akademisi.
Maka, amatilah petunjuk itu, bila ingin mengetahui di wilayah mana sesungguhnya anda berada. Sebab di sana juga membiaskan apa adanya. Bila pintu seleksi itu buruk, maka situasi dan orang-orangnya tak jauh dari situ. Jadi jangan terpedaya oleh promosi, iklan-iklan yang selalu mengecoh calon korbannya.
Lebih jauh lagi, bila peserta didik di kampus itu memendam segompok keluh kesah, maka tengok pula wajah-wajah pengajarnya. Bila pengajarnya tidak mendidik, liriklah metode rekruemennya. Di sana juga bakal ketahuan sumber keluhan pelajar. Di sana juga bercerita orientasi calon dosen itu sendiri. Mereka memilih pilihan dosen karena dekat dengan penguasa akademik, selanjutnya mungkin karena tak ada pekerjaan lain di luar yang bisa menampungnya.
Kita tidak semudah itu percaya adanya pengajar yang berorientasi keilmuan, dengan mengisi dada peserta didik dengan akal dan penuh budi. Bahkan kepada mereka yang titelnya berderet angkuh sekalipun. Bahkan mungkin sederet gelar juga tidak mencerminkan perilaku sebagai intelektual sejati. Jadi tidak serta merta dengan titel itu membuat kita berdecak kagum lalu terpesona. Kita hanya percaya kepada segelintir saja. Yang kita percaya sepenuhnya adalah egoisme, yang dihuni mengintip gelar dan kedudukan dan status sosial.
Bagaimana mungkin bisa diterima akal sehat? Lembaga pendidikan kita bagai mesin rusak, yang hanya melahirkan manusia-manusia egois. Mereka yang dididik harus segera cepat meraih sarjana, penuhi persyaratan, lalu segera berdiri angkuh di depan mahasiswa. Puluhan mahasiswa bergantian menyaksikan dan mempertanyakan mereka. Siapa mereka, bagaimana komitmen keilmuannya? Semua tak jelas alamat dan komitmennya.
Bagaimana mungkin mereka bakal paham tentang aspirasi, nurani, dunia kemahasiswaan, komitmen keilmuan, kalau mereka ditempah dari dasar egoisme dan rekreutmen rapuh. Bagaimana mungkin, mereka jarang tersentuh dan berbicara dari hati nurani ke hati nurani kalau mereka sendiri tak pernah mau memahami dunia tempat mereka bergelut.
Dan itulah yang tengah terjadi, karena yang begitulah menjadi harapan para petinggi kampus. Kita terjebak dalam simbol-simbol gelar, bahwa dengan sekolah tinggi, gelar berderet segalanya dapat terselesaikan. Bahwa dengan jabatan, kita mampu membuat orang terpesona.
Mereka, kaum terpelajar, yang berani berkata “tidak”, ketika semua berkata “ya” harus menyingkir. Mereka yang dinilai tidak loyal pada penguasa kampus, aktivis, fungsionaris, pemberontak terpaksa urut dada dan dengan hormat harus menyingkir. Harus menyingkir, karena dapat merusak statusqou mereka yang telanjur nikmati.
Karena itu wahai kaum aktivis, tak perlu resah bila suatu waktu engkau terdepak. Cinta terhadap almamatermu belum memiliki tempat di sisi mereka. Tempat itu sudah terpaket dan dipesan oleh mereka yang mempribadikan jabatan.
0 komentar:
Posting Komentar