UNIVERSITAS BANGKRUT
Yang tersisa hanya mereka yang sekadar mengejar mahasiswa yang boroientasi yang penting Indeks Prestasi (IP) tinggi. Yang tertinggal dan lanjut ke jenjang berikutnya hanya mereka yang berambisi mengejar posisi dan kedudukan yang sangat “wah” di universitas. Yang tertinggal hanyalah yang patuh di ruang-ruang kelas tanpa memiliki kepedulian dan sikap kritis di lingkungan sekelilingnya.
Mereka yang tertinggal dan mengisi universitas bukan mereka yang berorientasi keilmuan, tapi sekadar mengincar meraih title dan kedudukan. Mereka bukan pengabdi tapi sekadar melaksanakan kewajibannya. Mereka bukan berjiwa pendidikan tapi sekadar pengajar. Mereka yang berjiwa pendidik dan orientasi keilmuan entah raib ke mana?
Mereka para mahasiswa selaku peserta didik tak lagi mengenal wajah-wajah pengajar mereka yang tiba-tiba muncul di depan ruang-ruang kelas. Tidak mengenal sejarah kemahasiswaan mereka, bahkan tak mengenal bagaimana hati nurani mereka.
Peserta didik pun bertanya, meski berbisik karena takut karena ketergantungan nilai. “Siapakah mereka yang mengajar itu? Asal mereka? Di manakah hati nurani mereka? Di manakah sukma dari ilmu dan gelar yang mereka kejar selama ini?
Mereka harus berhadapan dengan pengajar yang hanya menyisakan keluhan yang mengisi jerit ruang-ruang mahasiswa.
Dunia para mahasiswa sunyi, kehilangan dinamika yang konstruktif. Yang muncul dinamika distruktif. Hirup-pikuk dunia idealisme dan semangat mereka berbenturan dengan “tembok-tembok” sosok mengajar yang berjiwa feodalisme, diktator dan para pengajar yang hanya mengejar titel. Yang tersisa hanya pengajar yang mampu mengeluh, malas mengajar dengan alasan gaji kecil. Yang tersisa, mereka yang kurang memiliki kepedulian dan tanggung jawab moral dan komitmen kelilmuan terhadap anak-anak generasi bangsa.
Kita pun kembali didera pertanyaan: Mengapa mereka yang berjiwa feodalisme yang mengisi ruang-ruang kampus? Lalu mengapa ingin menjadi pengjar jika tidak ingin menanggung risiko gaji kecil, mengapa tidak menjadi saja sebagai pengusaha. Lalu mengapa resiko pilihan menjadi pengajar itu ditimpakan kepada mahasiswa sebagai korbannya? Ini sebuah ironi yang perlu diperlu dicari jawabannya di tengah permainan cantik para kolusionisme.
Ini sebuah ironi universitas. Bila “kolusionisme” dan korupsionisme, sudah melanda universitas, lima tahun dan 10 tahun hingga dua puluh tahun ke depan, universitas akan bangkrut. Sebab asset SDM mahasiswa yang potensial satu demi satu pergi, meninggalkan almamaternya. Yang tersisa hanya keluhan yang tercecer di mana-mana dan semangat destruktrif yang saling merusak di bawah, sebagai cerminan rusaknya kepemempinan kolektif di atas mereka.
0 komentar:
Posting Komentar