PERGOLAKAN NURANI
KISAH pergolakan selalu saja hadir di depan kita; pergolakan rakyat terhadap penguasa, pergolakan nurani terhadap kesewenang-wenangan. Karena itu pula, kisah ini tak lepas dari sejarah kehidupan manusia. Kisah itu pun membentuk suatu pemahaman; Betapa malang suatu bangsa yang tidak memetik pesan dari sejarah itu sendiri.
Kisah pergolakan massa sesungguhnya berawal dari kisah pergolakan nurani. Ketika nurani hanya bergolak dibalik ketidakberdayaan menghadapi benteng kesewenang-wenangan. Ketika banyak mulut yang terkatup, diam seribu bahasa di tengah kesadaran akan hak-haknya yang terengut dan diinjak sewenang-wenang.
Dalam diam, dalam kebisuan ada rasa perlawanan yang bergolak, yang juga merisaukan pikiran ketika mengingat arti sebuah hak yang diselewengkan.
Di tengah kekuasaan otoriter, suara-suara kebenaran selalu tereduksi. Setiap penuntutan hak selalu diperhadapkan dengan kata “AWAS”. Sebuah ancaman bagi para penuntut hak-hak.
Kita tak mudah memang berteriak dan menuntut hak di tengah ancaman kata AWAS. Karena kata AWAS begitu angker dan sangat sakral untuk dilabrak. Ia memiliki resiko untuk melangkahinya. Ia bisa menyuramkan masa depan. Ia dapat mematahkan semangat hidup bahkan Ia dapat melumpuhkan keyakinan hidup.
Tak mudah memang melangkahi wilayah itu. Hanya sikap dan keberanian terhadap resiko yang mampu melabrak ketakutan-ketakutan itu. Keberanian untuk melepaskan himpitan ketakutan, melangkahi berbagai cibiran, dotrin pengaturan reski, tawaran pangkat maupun kedudukan.
Kadang keberanian itu mencuat ketika diam membisu tak lagi bermakna. Ketika kata AWAS sudah membunuh kebebasan hidup dan kebahagiaan hidup. Dengan kata lain, pergolakan dan keberanian itu akan muncul ketika kesabaran sudah berada dititik puncak.
0 komentar:
Posting Komentar