Cari Blog Ini

Mengapa Ide-99


Ide? Ya…ide. Di kepala kita penuh berbagai ide. Ide muncul di mana saja. Saat kita bangun tidur, saat kita bekerja atau bahkan saat kita terdesak. Ide seperti sebuah “wahyu”. Jika kita tidak menuliskan ide tersebut, ia hanya terpendam dalam alam bawah sadar, bahkan menguap entah ke mana? Karena itu, ide perlu ditulis, agar ide menjadi produktif, ide menjadi cahaya bagi kebodohan. Ide menjadi penerang di tengah peradaban. Karena itu, mengapa penulis memberi nama blog ini menjadi ide. Sebab melalui lembaran internet inilah, penulis akan mengukir berbagai ide yang muncul dari pikiran penulis, dari sari pikiran orang lain. Mengapa 99, sebab 99 itu adalah jumlah asmaul husna. Tentu ada rahasia dari angka itu. Ada daya magnet. Setidaknya di memori orang, angka itu, bukan sesuatu yang baru.

Di lembaran dunia maya ini, penulis akan meluangkan waktu untuk menulis ide-ide bagi kehidupan. Penulis akan menularkan ide-ide pencerahan, sebab sebuah perubahan besar berasal dari ide. Penulis juga akan mengulas kembali ide-ide cemerlang yang muncul dari orang lain. Penulis akan menampung di dalam blog ide-99 ini. Karena penulis sadar, bahwa ide-ide dan karya besar tidak harus lahir dari orang-orang besar. Ide boleh berasal dari sudut lorong, dari orang-orang biasa yang memungut berbagai hikmah kehidupan. Karana itu, ingatlah ide-99 dan selalulah bertamu. Mungkin ada solusi terhadap masalah Anda, di mana Anda bisa menemukan solusi atas masalah itu. Atau mungkin juga Anda memiliki ide untuk pencerahan kehidupan dan kemanusiaan ini. Atau mungkin Anda memiliki pertanyaan. Maka bertanyalah, karena setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban. Kontak email smart2ide@gmail.com

Rabu, 22 Juli 2009

PERGOLAKAN NURANI

By. M. Ishak Zainal

KISAH pergolakan selalu saja hadir di depan kita; pergolakan rakyat terhadap penguasa, pergolakan nurani terhadap kesewenang-wenangan. Karena itu pula, kisah ini tak lepas dari sejarah kehidupan manusia. Kisah itu pun membentuk suatu pemahaman; Betapa malang suatu bangsa yang tidak memetik pesan dari sejarah itu sendiri.

Kisah pergolakan massa sesungguhnya berawal dari kisah pergolakan nurani. Ketika nurani hanya bergolak dibalik ketidakberdayaan menghadapi benteng kesewenang-wenangan. Ketika banyak mulut yang terkatup, diam seribu bahasa di tengah kesadaran akan hak-haknya yang terengut dan diinjak sewenang-wenang.

Dalam diam, dalam kebisuan ada rasa perlawanan yang bergolak, yang juga merisaukan pikiran ketika mengingat arti sebuah hak yang diselewengkan.

Di tengah kekuasaan otoriter, suara-suara kebenaran selalu tereduksi. Setiap penuntutan hak selalu diperhadapkan dengan kata “AWAS”. Sebuah ancaman bagi para penuntut hak-hak.

Kita tak mudah memang berteriak dan menuntut hak di tengah ancaman kata AWAS. Karena kata AWAS begitu angker dan sangat sakral untuk dilabrak. Ia memiliki resiko untuk melangkahinya. Ia bisa menyuramkan masa depan. Ia dapat mematahkan semangat hidup bahkan Ia dapat melumpuhkan keyakinan hidup.

Tak mudah memang melangkahi wilayah itu. Hanya sikap dan keberanian terhadap resiko yang mampu melabrak ketakutan-ketakutan itu. Keberanian untuk melepaskan himpitan ketakutan, melangkahi berbagai cibiran, dotrin pengaturan reski, tawaran pangkat maupun kedudukan.

Kadang keberanian itu mencuat ketika diam membisu tak lagi bermakna. Ketika kata AWAS sudah membunuh kebebasan hidup dan kebahagiaan hidup. Dengan kata lain, pergolakan dan keberanian itu akan muncul ketika kesabaran sudah berada dititik puncak.

0 komentar:

About This Blog

Pengikut

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP