AMANAH SANG IBU
SUATU masa, seorang ibu menjelang kematiannya, menitip amanah kepada anaknya.
“Nak, jujurlah pada dirimu sendiri. Jangan lupa untuk selalu belajar pada pengalaman, pengalaman dirimu juga pengalaman orang lain.
Pengalaman itu adalah sejarah hidupmu. Ia tak pernah bohong. Karena itu wahai anakku, jadikanlah kejujuran itu selalu menghias pengalamanmu. Hiasilah selalu hidupmu dengan kejujuran.
Iya, belajarlah untuk tetap jujur, walau pun terasa berat untuk diamalkan dan ditegakkan di tengah hidup kemunafikan. Tetaplah belajar dan selalu berusaha untuk jujur. Sebab ia akan berbekas di tulisan, dan berbekas di ingatan. Ia akan menjadi saksi peradaban sekalipun orang berupaya untuk menutupi dengan segala kekuasaannya.
Wahai anakku, janganlah engkau menyepelekan kejujuran itu. Kalau pun kau menyepelekannya, maka suatu waktu jangan engkau marah, kecewa ketika orang membongkar ketidakjujuranmu.
Jikalu suatu saat orang ramai-ramai menghujatmu, lantaran ia mengetahui ketidakjujuranmu yang mengorbankan ratusan jiwa manusia, maka janganlah kecewa apalagi sedih. Hadapilah dengan tabah dan tobat. Tak perlu mengelak sedemikian rupa hingga lebih memperpuruk kemunafikanmu. Hadapilah dengan tabah, karena kemunafikan memiliki hukum tersendiri. Kemunafikan dapat menjadi bumerang pada suatu saat, ketika engkau tak lagi memiliki uang dan kekuasaan untuk menutupinya. Pengadilan kejujuran akan menuntutmu, mengadilimu, walau pun pengadilan itu sendiri berada dalam nuranimi.
Belajar dan berusahalah untuk selalu jujur, namun jangan mencari kejujuran pada orang munafik. Kejujuran hanya ada pada mereka yang mencintai dan menjaganya.
Ingatlah pesan ini nak, jujur dan sekali lagi jujurlah, sebab hanya ini warisan yang aku titipkan kepadamu, tidak harta juga kekuasaan.” (Pedoman Rakyat, 3 Agustus 1997)
0 komentar:
Posting Komentar