KEMUNAFIKAN KITA
KITA ini kadang munafik pada diri kita sendiri. Kita berani berbohong kepada yang mengetahui sumber-sumber kebohongan dan kemunafikan itu. Lain di mulut lain pula di hati, bahkan lain di pikiran. Kita tidak konsisten dengan kalimat-kalimat yang meluncur dari lidah kita.
Amatilah diri kita, ketika kita menghadap raja diraja, sembahan manusia. Ketika kita mengangkat takbir, kita mengucapkan kebesaran Allah, lalu kita berkomitmen bahwa hidup dan matiku kupersembahkan untuk-Mu wahai Tuhanku, sementara pikiran kita melayang-layang, hati kita bahkan tidak seiring dengan kemauannya.
Lidah, pikiran dan hati tidak menyatu. Tri In One, tiga untuk satu dan satu untuk tiga tidak seiring dan sejalan dan tidak menyatu. Betapa munafiknya kita. Apalagi ketika takbiran itu kita angkat lalu memunculkan rasa ujud kepada para manusia, maka makin munafiklah kita. Kita berkata hidup dan matiku kupersembahkan untuk tuhan, tetapi ternyata dipersembahkan kepada manusia yang ingin agar kita dipuji.
Andaikan kita adalah raja, dan hamba sahaya menghadap kita lalu dia berbicara fasih, namun kita tahu bagaimana pikirannya melayang-layang dan hatinya lalai, tentu sebagai raja akan marah. Tentu akan berkata lantang, perkataanmu itu ada benarnya, tapi pikiranmu ngelantur dan hatimu tidak tulus. Kamu hanya bermain-main dalam kata-kata, tapi hatimu tidak kau persembahkan, pikiranmu tidak kau fokuskan.
Untunglah Tuhan itu bukan manusia, Dia maha mengetahui kelemahan manusia. Karena itu, beruntunglah mereka yang mengetahui dan memahami dirinya dan mengetahui Tuhan yang mereka sembah. Beruntunglah mereka yang mempergunakan sebagian waktunya untuk berma’rifat kepada Allah. Bukankan dengan mengenal tuhannya maka dia akan mencintainya. Bukankah dengan mencintainya, maka dia akan tulus dan ihlas beribadah.
Inilah sebagian dari kita. Kita hanya melihat segala sesuatu dalam bentuk kewajiban. Yang penting kewajiban terlaksana. Kita lupa tentang ketulusan dan keihlasan hati kita, padahal sumber dari semua itu ada pada hati kita. (Makassar, 16 Mei 2007)
0 komentar:
Posting Komentar