Hanya Orang Biasa
Kita sebaiknya tetap menjadi orang biasa, menjadi orang sederhana, agar ketika kita terpental dalam pentas politik, kita tidak terlalu sakit. Dan ketika berada pada status sosial di atas dari sekeliling kita, tidak menjadi angkuh.
Biarkan hidup dengan kesederhanaan. Kesederhanaan toh tidak termakan zaman. Kesederhanaan juga tidak membuat orang miskin tersisih dari kita atau orang-orang atas menjadi dengki atas pilihan hidup kita.
Sekarang ini banyak orang meninggalkan jati dirinya, karena meninggalkan pandangan hidup orang biasa. Malah meninggalkan pandangan hidup orang desa yang begitu bernasehat secara sederhana : Nak, jangan bohong. Nak jangan sakiti sesamamu. Bantulah orang lain, jangan menipunya.
Nasihat mereka sederhana. Tak ada kebohongan-kebohongan. Sederhana ya sederhana. Terus-terang ya terus terang. Karena itu kita baiknya saja menjadi orang biasa saja, seperti prinsip hidup orang-orang desa yang masih bijak.
Tapi, sekali lagi, kebanyakan dari kita ini justru tergoda dan memuja kehidupan kaum elit bahkan ikut bermain-main dengannya. Mereka berteriak pengentasan kemiskinan di atas hotel-hotel mewah. Mereka berteriak lantang jangan korupsi di atas tumpukan deposito milyaran.
Kita ini malah lebih memilih bersenang-senang dengan mereka bahkan ikut bermain untuk menceburkan diri di dalamnya. Kita menjatuhkan martabat kesederhanaan yang dulunya melekat pada kehidupan sederhana kita. Kita ini lebih memilih menjadi elit politikus lihai yang tak jauh bedanya dari defenisi sederet pembohong dan bermulut besar.
Karena itu, untuk menjadi orang biasa, baiknya kita selalu memandang ke bawah lagi, memandang kehidupan orang-orang biasa yang hidup bersahaja. Di bawah sana terdapat kearifan-kearifan hidup. Di bagian sana berderet kebenaran karena kejujurannya. Kita tak perlu lagi selalu memandang orang atas kehidupan para elit kita. Memandang lalu meniru gaya hidupnya.
Di atas kehidupan sana bukan lagi kehidupan normal seperti kehidupan orang biasa. Di atas sana ada baiknya kita menahan diri untuk tidak menghargai khususnya para elit-elit pembohong besar, karena nilai kebenaran itu tak senilai dengan sosok para pembohong itu.
Kita harus berani memilih hidup menjadi orang biasa, bersikap seperti biasa. Tak ada kebohongan-kebohongan sikap. Tak ada pelacuran-pelacuran nurani.
Ya, seperti orang biasa, bila marah bukan menyodorkan senyum. Bila senyum, senyum dengan tulus ihlas. Tidak dibolak balik sesuai kehidupan para elit kita yang di atas sana. Senyumnya adalah senyum politik. (M. Ishak Zainal)
0 komentar:
Posting Komentar